BANYAK LIBUR

angka


Pengaruh diLIBURkannya sebagian besar yang terlibat dalam dunia bisnis di ibukota Jakarta dan sekitarnya bila ada LIBUR “harpitnas”, LIBUR hari kejepit nasional yaitu kalau ada LIBUR tanggal merah yang jatuhnya pada hari Selasa atau Kamis, maka hari Senin atau Jum’at jadi diLIBURkan, meski di beberapa perusahaan diadakan pengganti hari, hari Sabtu yang tadinya libur jadi masuk biasa, sebagai pengganti hari Senin. Kalau nggak ada pengganti hari, otomatis LIBUR jadi panjang karena ditambah LIBUR hari Sabtu dan Minggu yang memang hari LIBUR biasa tadi, long weekend, mau itu diLIBURkan atau “meLIBURkan diri”. Malahan misalkan hari Seninnya nggak diliburkanpun, malah mereka-mereka yang masih punya “prinsip I DON’T LIKE MONDAY”, “I HATE MODAY”, pasti LIBURnya “nyambung”, (kok jadi banyak sekali “LIBUR“nya yah?). Dengan kondisi begini, maka para pengusaha berbagai produk siap pakai di Bogor, Puncak, Cianjur (BOPUNJUR), Bandung + Sukabumi, seperti pengusaha-pengusaha Garment, Outlet-outlet, Kuliner, Hotel, Villa, Wisata alam dan banyak lagi yang lainnya, akan mendapat omzet yang lebih banyak dibanding hari-hari biasa. Dan pengusaha kecilpun, termasuk pedagang asongan, tukang parkir, tambal ban, bengkel-bengkel kecil, warung-warung kecil dan tukang-tukang yang lainnya yang juga memanfaatkan situasi macet yang parah, terutama di jalur yang ada diterapkan system buka tutup, ikut mengais rezeki, memanfaatkan situasi kondisi tersebut.
Pada saat roda bisnis di kota yang menjadi barometer ekonomi nasional yaitu Jakarta berputar melambat, di daerah-daerah wisata dan hiburan, termasuk jalur utama yang menuju ke arah sana, justru berputar lebih kencang dengan serbuan wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya ditambah wisatawan dari kota itu sendiri.
Banyak warga Jakarta dan sekitarnya, memanfaatkan liburan yang panjang, melancong ke luar kota, hang out,  yang hobi, sebagian nyari tempat-tempat yang “adem”, yang lain pergi ke pesisir untuk “berendem”, akhirnya macet parah sampai “berjem-jem” tak terelakkan lagi, terutama dijalur-jalur yang menuju ke tempat pariwisata yang nggak jauh dari “itu-ituuu” juga atau macet parah ke tempat berbelanja yang “itu-iituuu” lagi. Kesimpulan lainnya, produktifitas di Jakarta dan sekitarnya jadi menurun, tapi di daerah-daerah wisata dan hiburan  tersebut bisa jadi meningkat.
Para pengusaha, khususnya yang dari luar negeri, yang menanamkan modalnya di Jakarta dan sekitarnya, mungkin cara “berhitungnya” berbeda dengan pengusaha di luar negeri. Harus menyesuaikan dengan kondisi sosial di Indonesia ini. Demikian juga para pengusaha lokal di kota-kota wisata dan hiburan serta jalur-jalur yang  menuju ke sana. Walau mereka memang sudah kenal kondisi sosial Indonesia, karena sam-sama orang Indonesia, tapi harus “berhitung” juga dengan banyaknya hari libur nasional + “libur-libur dadakan yang lainnya” di kalender Indonesia, apalagi jatuhnya di hari Selasa atau Kamis, ditambah tradisi akhir tahun dan hari raya keagamaannya, di mana menurut info yang saya baca dari surat kabar Kompas, di dunia hanya ada di Indonesia yaitu “mudik”. Fenomena luar biasa. Pulang kampung neh ..!.
Untuk pemerintah ? .. Mungkin sedang menunggu hasil selisih “perhitungan” antara para pengusaha yang menanamkan modalnya di Jakarta dan sekitarnya dengan para pengusaha lokal di kota-kota wisata dan hiburan.
Apa yang terjadi setelah liburan panjang berakhir?.
“RODA BISNIS” yang tadinya berputar melambat karena ada liburan panjang, untuk berputar menjadi cepat lagi, jelas butuh “TENAGA YANG SANGAT BESAR” waktu mulai memutarnya. Ketika sedang memutar roda bisnis untuk kembali menjadi cepat, tiba-tiba ada libur panjang lagi, maka belum sampai berputar maksimal, roda bisnis sudah kembali melambat lagi.
“Produktifitas yang “tensinya” menurun karena ada liburan panjang, untuk “memanaskan” kembali tensi tersebut, butuh pemanasan lebih dulu. Ketika sedang pemanasan, belum mencapai panas yang ideal untuk naik, tiba-tiba ada libur panjang lagi, maka “tensi” produktifitas yang mulai naikpun kembali menurun lagi.

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: