OLAHRAGA DAN NASIONALISME

Apakah nasionalisme bisa mempengaruhi prestasi olahraga suatu negara?. Grafik menunjukkan sejak tahun 60-an hingga sekarang prestasi olahraga Indonesia malah menurun. Apakah karena atlit-atlit Indonesia angkatan tahun 60-70-an, silsilah keturunannya masih sangat dekat dengan orang-orang yang terlibat langsung perjuangan kemerdekaan 1945, yang rasa nasionalisme dan “pengorbanan”nya demi negara masih sangat kuat,  sehingga semangat bertandingnyapun sangat tinggi, (rasanya ekstrim sekali di sini menggunakan kata “pengorbanan”). Atau barangkali cara bernasionalisme warga negara Indonesia generasi sekarang sudah sedikit berbeda kalau nggak mau dibilang luntur yang bisa mempengaruhi spirit membangun negara termasuk semangat bertanding di bidang olahraga, apalagi sekarang segalanya banyak diukur dan dipengaruhi hal-hal yang bersifat materi.

Betapa pada tahun 70-80an, para pebulutangkis Indonesia sangat “sakti mandraguna”. Dari ajang Thomas Cup, Uber Cup, All-England dan lain-lain, nyaris 100%, juaranya Indonesia, dari tunggal putra, tunggal puteri, ganda putera, ganda campuran,  semua gelar disapu-bersih. Rudi Hartono, Liem Swie King, pasangan Christian Hadinata-Ade Chandra, pasangan Tjun-Tjun-Yohan Wahyudi, untuk puterinya ada Verawati Fajrin, Imelda Wiguna dan lain-lain, adalah nama-nama yang sangat disegani di tingkat dunia pada cabang olahraga badminton tersebut, sebelum akhirnya mulai muncul pesaing kuat dari “Negeri Tirai Bambu” China, seperti Luan Jin, Han Jian, pasangan Tian Bing Yi-Li Yong Bo, puterinya : Han Aiping, Li Ling Wei. Untuk cabang sepakbola waktu itu juga Indonesia merupakan salah satu macan di benua Asia, apalagi Asia Tenggara, termasuk “Piala Macan”, Tiger Cup, yang sekarang dikenal dengan AFF Cup. Dan secara “OVERALL” (seluruh cabang olahraga), untuk pesta olahraga Asian Games, Indonesia selalu masuk 10 besar, bahkan di ajang SEA Games, Indonesia selalu Nomer 1. Pada masa sekarang-sekarang ini, seperti cabang bulutangkis dan sepakbola, prestasinya jauh menurun. Di tahun 70-80 sampai awal 90-an, untuk level Asian Games, Indonesia berani menargetkan posisi 10 besar peringkat, tapi sekarang targetnya  cuma medali emas di cabang tertentu, atau beberapa medali saja. Di arena SEA Games, kalau dulu Indonesia dengan sangat “pede” menargetkan Juara Umum, tapi sekarang hanya berani menargetkan emas di cabang olahraga tertentu. Banyak faktor yang sangat mempengaruhi semangat dan prestasi olahraga sebuah negara. Untuk Indonesia salah satunya mungkin sudah kurang fokus, bisa juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, non-teknis. Atau karena politik dan ekonomi ?. Tapi negara-negara di Afrika walaupun politik dan ekonominya “begitu-begitu” terus (“kalo kata bang Iwan Fals : Perang-perang lagii..), bisa juga tuh dan rutin melahirkan atlit-atlit kelas dunia yang berprestasi (misalnya atletik dan sepakbola)..malah jauh lebih banyak dari “Indonesia. Khusus olahraga yang banyak penggemarnya yaitu sepakbola dan bulutangkis, Indonesia yang masih pasang surut dan sekarang lagi surut, harus membangun “pondasi” yang sangat kuat dulu untuk berkembang meningkat.
Olahraga yang awalnya merupakan sebuah permainan adalah salah satu sisi kehidupan yang bisa menjadikan image kuat untuk sebuah bangsa. Kalau image dalam bidang apapun termasuk olahraga di suatu negara sudah kuat (di sini maksudnya image yang positif), istilah lain, “sudah punya nama”, maka negara itu akan sangat disegani oleh negara lain dan bisa membanggakan.

Contoh
Cabang Sepakbola : Negara Brasil dengan sepakbolanya. Brasil walaupun gagal menjuarai sebuah turnamen, tapi kalau orang bicara tentang sepakbola dunia, tanpa membawa nama Brasil, jadi terasa kurang, karena imagenya sudah sangat kuat. Para pesepakbola dari negeri Samba tersebut sangat disegani di kancah sepakbola Eropa dan dunia dan mungkin jadi tolak ukur cara bermain sepakbola,  maka kalau ada (misalnya) negara Eropa bermain sepakbola “indah”, bisa mendapatkan sebutan “Brasilnya Eropa”.  Negara Spanyol walaupun terkena krisis ekonomi, tapi karena mereka sukses menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya tahun 2010, “segalanya jadi terasa lebih indah”. Negara Argentina yang kurang lebih sama dengan Indonesia, tapi dengan Maradona dan LionelMessi-nya,  status Argentina jadi terangkat.
Cabang senam : Cina dan Eropa Timur adalah dua kubu yang sulit ditandingi di cabang olahraga yang penuh dengan inovasi gerakan-gerakan tubuh indah yang dipadu dengan stamina tinggi ini.
Cabang bola basket :  Amerika Serikat lah yang sukses mempopulerkan bahkan menjadi bisnis jutaan dollar, dengan NBA-nya olahraga yang melibatkan banyak orang-orang “jangkung” dalam permainannya. Kareem Abdul Jabar, Ervin “Magic” Johnson, Michael Jordan, Hakeem Olajuwon,Kope Bryant adalah “produk” terkenal NBA yang sangat populer, terutama di kalangan anak-anak remaja seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Cabang Tenis dan Otomotif : Eropa dan Australia di dua cabang olahraga ini tradisinya sangat kuat.  Bjorn Borg, Roger Federer, Caroline Wozniacky, Maria Sharapova adalah jawara Tenis dunia. Michael Schumacher, Mika Hakinen, Valentino Rossi dan dari benua kanguru Australia ada Michael Doohan atau Cassey Stoner adalah nama-nama yang sempat menjadi yang “tercepat” pada lomba di atas mesin jet darat.
Atau Rusia dengan caturnya ?. Victor Korchnoi, Anatoly Karpov, Gary Kasparov dll.
Bagaimana dengan Indonesia ?. Selain bulutangkis, ada beberapa cabang olahraga yang bisa diandalkan untuk level dunia seperti tinju di kelas yang ringan-ringan ke bawah, seperti welter, bulu, bantam dll. Di kelas yang “ringan” ini, Indonesia bisa bicara lebih banyak lagi di tingkat dunia. Cabang2 alternatif seperti dayung, layar, selancar, angkat besi, angkat berat pun Indonesia pernah berprestasi bagus.

Advertisements

2 thoughts on “OLAHRAGA DAN NASIONALISME

  1. Lina Miftahul Jannah

    Nasionalisme meningkat, prestasi olahraga gak naik-naik juga. Mungkin karena definisi nasionalisme terlalu sederhana. Sesederhana nasionalisme para supporter yang merusak sarana olahraga karena gak boleh masuk lantaran gak punya tiket dan sesederhana komentar para komentator di media massa yang sangat pedas kalau si atlet gak menang.

    Reply
  2. Pingback: OLAHRAGA UNTUK KESEHATAN JASMANI ROHANI | Blog SD18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s