OLAHRAGA DAN LAPANGAN KERJA

Cari kerjaan susah, saingannya banyak dan berat, apalagi nggak ada koneksi orang dalem. Belum lagi mendapat pekerjaan, setahun kemudian sudah ada lagi lulusan angkatan kerja baru, yang mencari kerja juga dan siap bersaing pula.
Ditambah dengan adanya kejadian nggak disangka-sangka yang menimpa para pahlawan devisa, yaitu para TKI yang bekerja di luar negeri, seperti Arab Saudi, Malaysia dan lain-lain, itu resiko.  Pemerintah Indonesia yang dibantu berbagai pihak harus bekerja keras mencari solusi lain lapangan pekerjaan.
Melimpahnya kekayaan alam Indonesia baik yang di darat maupun di laut nggak bisa dijadikan jaminan, karena beberapa di antaranya membutuhkan “kerja keras” bahkan teknologi tinggi.  Seandainya bisa dimaksimalkan lagi pengelolaannya, sebetulnya bisa lebih menguntungkan, terutama untuk kesejahteraan rakyat Indonesia sendiri. Tapi berhubung sudah dikelola tapi masih kurang maksimal, jadinya masih belum maksimal juga manfaatnya untuk rakyat Indonesia sendiri.
Salah satu “modal” lain yang dimiliki Indonesia yaitu ratusan juta jiwa penduduknya. Sayangnya justru pihak luar yang sudah maksimal memanfaatkan potensi itu, misalnya TKI, dan para produsen dari luar negeri yang menjual barang-barang hasil produksinya ke sini. Tapi Indonesia juga nggak mungkin tergantung dengan TKI terus dan kekayaan alam terus. Harus dicari solusi lain. Bagaimana kalau olahraga lebih dimaksimalin lagi ?. Wah, seandainya seluruh cabang olahraga di Indonesia, termasuk yang tradisional, sudah menjadi rutinitas mingguan yang sudah berjalan lancar, profesional, sudah menjadi sebuah industri, maka olahraga bisa menjadi salah satu solusi lapangan pekerjaan. Olahraga harus dijadikan industri di sini. Contoh yang sudah berjalan, sepakbola, cabang olahraga ini di Indonesia sangat banyak penontonnya dan sangat banyak penggemarnya, bahkan bisa melebihi penonton sepakbola di Inggris atau Itali dan juga Spanyol. Tapi itu kalau dikemas lebih rapi dan lebih profesional. Hampir semua orang nonton sepakbola, tapi nggak semua orang nonton olahraga selain sepakbola.
Banyak orang butuh hiburan dan kalau liga sepakbola di Indonesia sudah bisa menghadirkan tontonan yang menarik dan menyenangkan, penonton semakin bertambah banyak yang datang ke stadion. “Nanti kalo tiketnya jadi mahal, gimana ?” “Jangan kuatir, orang Indonesia selalu siap mbayar, apalagi kalo datang ke tempat-tempat yang ada keramaiannya”.  Di event-event sepakbola yang masih sering rusuhpun, sebetulnya penonton di setiap laga Liga Indonesia sudah lumayan banyak, apalagi kalau sudah tertib dan terkendali. Bisa menyaingi pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan suatu saat mungkin pusat perbelanjaan akhirnya malah nggak mau jauh-jauh dari stadion. Setiap akhir pekan pertandingan sepakbola pasti menjadi tontonan keluarga.
Sekali lagi, yang paling penting “SUASANA DI STADION DULU” kuncinya.
Sepakbola dan olahraga lain harus menjadi sebuah industri di sini, seperti di Eropa, klub-klub di sana sudah go public. Dari industri sepakbola bisa menyerap banyak tenaga kerja, setidaknya ada uang pemasukan yang merata untuk banyak pihak.
Untuk pihak yang terlibat langsung dalam pertandingan : Para pemain, wasit dan dua asistennya, pelatih, manajer dan officialnya dan dari pihak pengelola stadion sendiri. “Atlit olahraga kan paling lama cuma belasan tahun berkarir, itupun kalau dipakai terus”. “Ya, memang betul, tapi kan atlit yang sudah pensiun bisa disalurkan menjadi, misalnya : Komentator, jurnalis khusus olahraga, pelatih atau instruktur olahraga dari klub yang junior sampai yang senior, bahkan bisa melatih di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, bisa juga melatih futsal yang merupakan varian lain dari sepakbola, bahkan bisa melatih ke luar negeri. Beberapa tahun yang lalu, banyak mantan atlit Indonesia, terutama cabang bulutangkis, yang diminta untuk melatih pemain-pemain bulutangkis di sebuah negara.
Bagi atlit yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, berupa paras yang cantik atau ganteng ? Bisa seperti David Beckham, Anna Kournikova atau Maria Sarapova, menjadi selebritis, yang penting bukan selebritis yang suka bikin ulah nggak bener aja.
Dan misalnya atlit yang sudah pensiun tersebut kebetulan sudah punya uang banyak ? Bisa juga pindah ke “kuadrant” lain, jadi pengusaha, bisa membeli saham sebuah klub olahraga untuk dikelola sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Gianluigi Buffon, penjaga gawang veteran dari Juventus Italia, membeli saham sebuah klub. Jangankan atlit sendiri, kalau klub-klub olahraga di Indonesia berpotensi menguntungkan, banyak orang-orang yang bukan atlitpun dan yang punya uang, pasti akan berebut membeli sahamnya.
Untuk pihak yang tidak terlibat langsung dalam pertandingan : Pabrik pembuat bola, pengusaha sepatu, kaos kaki, merchandise, pernak-pernik, kaos dan asesories lainnya, contohnya Manchester United. Dan banyak lagi yang lainnya seperti hak siar, bisa mendatangkan keuntungan.
Itu baru dari satu cabang olahraga saja, yaitu sepakbola. Kalau cabang olahraga yang lain sudah menjadi industri juga, seperti bulutangkis, otomotif, tinju dan lainnya, maka akan banyak sekali tenaga kerja yang terserap.
Walaupun ini memang berat, namanya juga mencari solusi. Kalo nggak mau mencoba alternatif solusi, maka nggak akan dapat solusi sampai kapanpun.

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

2 Responses to OLAHRAGA DAN LAPANGAN KERJA

  1. Pingback: OLAHRAGA DAN KESEHATAN JASMANI ROHANI | Blog SD18

  2. Pingback: INDUSTRI OLAHRAGA, DALAM INDUSTRI ADA OLAHRAGA | Blog SD18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: