MUSIK DAN REZIM PENGUASA

Timur Tengah atau Middle East adalah wilayah yang selalu bergolak dan semakin bergolak belakangan ini. “Middle East always “hot”. Yang dikasih amanat untuk memegang kekuasaan pemerintahan di beberapa negara-negara yang mengandalkan minyak sebagai sumber pemasukan terbesar tersebut memang sudah puluhan tahun duduk nyaman di singgasananya. Barangkali kalau tidak didesak paksa untuk turun, dilengserkan secara paksa oleh jutaan rakyatnya, para pemimpin tersebut malah ingin menjadi raja. Bisa jadi nanti akan mengangkat salah seorang anaknya sendiri atau setidaknya saudara terdekatnya sendiri menjadi penerusnya. Seperti itulah kondisinya. Terlepas dari bagaimana caranya, karena dipaksa atau turun sendiri atau karena ada campur tangan atau intervensi diam-diam dari pihak asing, yang namanya rezim penguasa, entah itu rezim otoriter, rezim militer, rezim boneka atau rezim yang baik-baik, kalau sudah masanya lengser, tidak akan pernah kembali lagi. Ada juga sih beberapa yang berusaha ingin “comeback”, ingin berkuasa lagi tapi sepertinya sulit. Biasanya mereka-mereka yang ingin “kembali”, menamakan dirinya sebagai “Neo…” “New,,, atau mungkin The next…”. Kalau yang kangen akan kehadiran rezim-rezim penguasa masa lampau ? Mungkin masih banyak, tapi kayanya sudah susah untuk kembali seperti dulu lagi.

Lain rezim penguasa, lain lagi dengan rezim musik.

Rezim musik akan terus berotasi, tidak terpengaruh oleh jaman apapun, rezim siapa yang sedang berkuasa, abad berapa, akan terus ber-evolusi, tapi evolusi rezim musik berbeda dengan lainnya, karena musik-musik masa lalu tidak bisa dilupakan orang begitu saja, musik masa lalu bisa dijadikan patokan untuk membuat musik modern jaman sekarang. Beberapa band terkenal dunia tahun 1980-an, banyak aransemen lagunya dipengaruhi (influenced) kuat oleh nada-nada musik klasik ciptaan abad 15-16, (sekitar tahun 1500 atau 1600-an), berarti ada rentang jarak waktu 300 tahun-an. Jangan-jangan musisi tahun 1600-an juga terinfluence oleh musik-musik tahun 1000-an, dst.  Sebuah band di Indonesia yang berpenampilan nyentrik tahun 2010 lalu, sukses mencetak beberapa hits. Jenis musiknya ? … kalau disimak, musik-musik mereka (meski bukan aransemen ulang musik lama), jelas sekali menyerap 80% musik tahun 70-an bahkan 60-an.  Di sebuah mini market, ada seorang anak kecil berusia sekitar 6 tahun mengikuti dengan fasihnya lagu “Hati Yang Luka” yang dulu dipopulerkan oleh penyanyi Betharia Sonata. Padahal lagu tersebut dirilis sekitar 30 tahun yang lalu, sekitar tahun 1980-an. Jangankan anak kecil tersebut, mungkin ibunya pun belum lahir waktu lagu tersebut diciptakan oleh Rinto Harahap. Barangkali karena alasannya not-not musik cuma “do re mi fa sol la si ” aja (cuma 7 nada), kecuali oktafnya yang berbeda, itupun paling cuma 4 oktaf, dan hanya penyanyi-penyanyi tertentu saja yang mampu menjangkau 4 oktaf lebih, seperti Mariah Carey.

Akhirnya rezim musikpun berputar-putar, berotasi bergantian tanpa memandang jaman.

Sekitar tahun 60-an rezim musik rock ‘n roll, ditemani oleh rezim musik jazz, rezim musik pop dan lainnya, mewabah dan jadi trend.

Tahun 70-an era rezim musik hard rock didampingi rezim musik disko, muncul meledak, tapi rezim musik yang lain masih ada.

Lalu tahun 80 s/d 90-an, rezim musik metal yang hingar bingar yang memekakkan telinga, yang menjadi pengembangan dari hard rock mewabah, tapi musik-musik yang lama juga masih sering terdengar.

Berikutnya jenis musik apa lagi niy ?. Ada pembuat musik mengklaim, mereka berhasil menciptakan jenis musik baru. “Musik yang kami mainkan berbeda dan unik”. Dan diterima oleh masyarakat. Tapi suatu waktu orang-orang akan merasa “kangen” akan musik-musik masa lampau, musik jadul, ingin memainkannya lagi, ingin menyanyikannya lagi, ingin menikmatinya lagi.

Musik bisa dijadikan eksperimen dengan bentuk-bentuk yang baru yang aneh-aneh biar tidak usang, tapi pengaruh dari kondisi dan perasaan jiwa seseorang yang sedang terjadi bisa membuat musik tidak pernah ada istilah usang, walaupun musik itu dirilis puluhan tahun yang lalu, bahkan ratusan tahun yang lalu.

Rezim musik bisa saja dibatasi “sound” nya oleh rezim penguasa, tapi apakah rezim penguasa ketika sedang menyendiri dan bersedih, membatasi dirinya juga untuk rezim musik ?.

 

 

 

 

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: