MUNTAHAN MATERIAL DAN SUMPAH SERAPAH

muntah

 

Muntahan material yang keluar dari gunung berapi bisa memaksa, mengusir orang banyak bahkan sampai membunuhnya. Entah karena gunung itu sudah “kekenyangan”, sampai mengeluarkan banyak sekali muntahan sejadi-jadinya. Yang namanya muntahan sejadi-jadinya itu nggak terkendali, akhirnya ya begitulah, apa saja yang ada di dalam perutnya, nggak peduli yang baru masuk atau yang sudah lama masuk pasti keluar semua, muntahannya kemana-mana. Atau juga gunung itu sudah “muak” melihat situasi jaman sekarang, sampai dia dengan sengaja membuat dirinya “eneg”, dimuntahkan semuanya, kemana-mana. Hasilnya memang jadi nggak enak, keadaan di sekelilingnya (terutama) jadi berantakan, porak poranda. Seperti letusan Gunung Tambora di Nusa Tenggara yang benar-benar mengubur seluruh kehidupan di sebuah kerajaan di masa lampau. Entah karena masyarakatnya pada waktu itu sudah sangat lupa daratan bahkan sampai “lupa lautan”, sudah “parah” kelakuannya atau hal lainnya. Sama halnya seperti letusan dahsyat gunung Krakatau di Selat Sunda, yang bukan saja mengeluarkan muntahan tapi juga tsunami.
Kalau di jaman Nabi Luth a.s kan memang sudah jelas, banyak penduduk di sana sudah sangat parah, sudah sangat bejat iman dan perilakunya, sudah tidak mau lagi mengikuti nasehat rosulNya, kaum laki-lakinya banyak yang menyukai sama yang sejenis (homosex).  Jadi Yang Maha Kuasa membuat sebuah skenario, melalui muntahan gunung berapi yang berkesan sangat marah dengan kelakuan mereka.
Yang namanya muntahan gunung berapi ada yang panas kemudian keluar juga yang dingin dan beraneka macam bentuk dan ragam benda lainnya, kecuali muntahan bola atau bola muntahan dari tangkapan penjaga gawang yang melakukan blunder dalam permainan sepakbola, yang dimuntahkan ya pasti cuma bola aja.
Muntahan dari perut gunung berapi di jaman Nabi Luth a.s kurang jelas apakah daerah-daerah di sekitar lokasi kejadian di sana jadi subur atau tidak. Tapi muntahan dari perut gunung berapi di daerah-daerah Indonesia biasanya berdampak positif dalam jangka panjang, misalnya tanah yang tertimbun muntahan jadi sangat subur.
Yang pasti muntahan seperti yang terjadi di jaman Nabi Luth a.s atau muntahan di jaman-jaman masa sesudahnya hingga muntahan yang terjadi sekarang bisa menjadi peringatan atau pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang hidup sesudahnya, dan orang di masa yang akan datang.
Ada lagi muntahan dari orang yang “eneg”, jijik melihat sesuatu yang dia nggak senang, yang dia nggak suka. Bahkan begitu “eneg” dan muaknya ada sebagian orang yang jadi mual terus langsung muntah. Misalnya melihat orang lain yang tanpa ragu-ragu menelan hidup-hidup, bulat-bulat binatang, seperti kodok hidup, ikan hidup, tikus kecil hidup dan lain-lain. Maka orang yang jijik itupun langsung mual dan muntah.
Banyak juga muntahan dari orang yang “eneg” dan muak melihat situasi jaman yang makin “ancur”, atau muak melihat kelakuan seseorang atau sebuah kelompok yang sangat merugikan orang lain tanpa peduli dengan kesusahan yang dirasakan oleh orang lain. Tapi muntahan yang ini jenisnya berbeda, bukan muntahan material tapi berupa muntahan “sumpah serapah”. Barangkali sebelum-sebelumnya, muntahan “sumpah serapah” itu bisa dikendalikan, yang ada cuma “eneg” dan mual. Dengan cara menarik nafas dalam-dalam lalu dikeluarkan, dibuang nafasnya/udaranya dilakukan berulang-ulang sampai keluar keringat dingin kemudian istirahat yang cukup, nggak jadi muntah. Tetapi kalau situasi yang “ancur” tersebut semakin bertambah-tambah, menjadi-jadi, kerusakan moral semakin bertambah parah, orang yang dirugikan semakin banyak, bahkan bisa jutaan orang dan seseorang atau kelompok orang yang kelakuannya “ancur” tersebut tidak punya malu lagi, maka orang-orang yang tadi melihatnya cuma “eneg” dan muak-pun akhirnya jadi semakin mual tak tertahankan hingga keluar muntahan “sumpah serapah” ketika melihat penampilan wajah orang atau kelompok orang yang merugikan orang lain tersebut. Meskipun demikian kalau orang-orang merasakan “eneg” dan muak melihat kelakuan seseorang atau kelompok orang yang merusak dan merugikan orang banyak hingga mual, kalau bisa jangan sampai mengeluarkan muntahan “sumpah serapah”, apalagi akhirnya sampai “mengeluarkan” macam-macam material juga.  Mendingan seseorang atau kelompok orang yang merugikan jutaan orang banyak itu yang sudah nggak bisa dinasehati lagi,  harus segera dijauhi, segera saja kita tinggalkan,  jangan didekati lagi.
Kalau orang mau muntah biasa ada gejala mengeluarkan suara “huekk” “hueeek” “cuiihh”, mulutnya megap-megap, beberapa kali meludah nggak karuan.
Kalau gunung berapi yang mau mengeluarkan muntahan gejalanya ada yang menyebut “terbatuk-batuk”. Itu peringatan awalnya. Gunung berapi kalau mau “muntah”, cara “mengobatinya” biar sembuh, barangkali bisa dengan “menghimbau” orang-orang di sekitarnya atau orang-orang di sebuah negara yang terdapat gunung berapi yang akan muntah tersebut untuk segera sadar, jangan lupa daratan dan “lupa lautan”, mawas diri, bertobat atas kesalahan yang selama ini dilakukannya. Tapi seandainya gunung berapi tersebut memang sudah tidak mau diajak kompromi lagi, ya sudah, terpaksa semua orang yang ada di sekitar gunung yang mau muntah tersebut diungsikan dulu, resikonya semua tanaman yang sudah dengan susah payah ditanam akhirnya rusak.

Muak terus mual dan “eneg” belum tentu jadi muntah, tapi kejadian muntah, sebelumnya pasti ada muak terus mual dan “eneg”.

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: