KOMPAK SEGERA MEMBENAHI DIRI

 

Tim sepakbola Italia pernah mengalami kekalahan telak 1-4 dari tim Samba Brazil di final Piala Dunia 1970 di Meksiko. Padahal tim Italia yang dijuluki tim Azzuri ini sudah pernah 2 kali menjuarai Piala Dunia. Dan di atas kertas, secara teknis, kesebelasan Italia setara dengan tim Brazil yang waktu itu masih diperkuat Pele.

Tim Tango Argentina pernah dilumat habis tanpa ampun oleh tim yang secara teknis boleh dibilang di bawah tim Argentina yaitu kesebelasan Kolombia dengan skor 0-5 di kualifikasi untuk Piala Dunia 1994. Kesebelasan Kolombia waktu itu diperkuat oleh playmakernya si kribo Carlos Valderama dan tim Argentina masih diperkuat oleh Diego Maradona dan beberapa pemain yang sukses membawa Argentina juara dunia tahun 1986. Tapi akhirnya tim Argentina lolos juga ke Piala Dunia 1994 yang diadakan pertama kalinya di Amerika Serikat.

Tim Samba Brazil pun pernah menelan pil pahit kekalahan telak, dibantai 3-0 tanpa bisa membalas oleh tim Ayam Jantan Perancis pada final Piala Dunia 1998 di Perancis. Padahal waktu itu Brazil diperkuat oleh pemain-pemain hebat, seperti Ronaldo, Carlos Dunga, Denilson dll. Dan beberapa pengamat menilai, di era tersebut, tim Samba Brazil di samping mempunyai tim inti yang hebat, tapi juga bisa mempunyai 2 tim cadangan yang kualitasnya kurang lebih sama dengan tim intinya.

Tim Panzer Jerman pada kualifikasi Piala Dunia 2002 harus mengakui kehebatan tim Three Lion Inggris dengan skor sangat telak 1-5 dan ironisnya hal itu terjadi di depan ribuan pendukungnya sendiri, di depan publik sendiri yaitu di Stadion Olimpiade Munchen, Jerman. Sang pelatih Jerman pun waktu itu yaitu Rudi Voeller sempat berduka akibat kekalahan tersebut, yaitu meninggalnya ayahnya yang shock melihat kejadian tersebut. Meski demikian Jerman yang kemudian bekerja keras, membenahi dirinya dan masih memberi kesempatan kepada Rudi Voeller sebagai pelatih, akhirnya lolos juga ke putaran Piala Dunia 2002 yang diadakan di Jepang-Korea, bahkan sukses mencapai grand final dan menjadi runner up di bawah timnas Brazil.

Pada putaran Piala Dunia 2010 yang diselenggarakan di Afrika Selatan, kali itu tim Inggris harus mengakui keunggulan tim Panzer Jerman. The Three Lion Inggris kalah telak 1-4. Sempat terjadi kontroversial ketika tendangan jarak jauh Frank Lampard mengenai mistar atas gawang tim Jerman yang dijaga oleh Manuel Neuer, lalu bola itu memantul ke bawah, ke belakang garis gawang yang berarti gol, tapi wasit dan hakim garis tidak bisa melihat jelas dan dianggap bukan gol. Frank Lampard pun sempat protes keras. Tapi rekannya, Steven Gerard lebih berbesar hati. “Stop kontroversi bola mantul ke belakang garis gawang, gol atau tidak !, akuilah ! Jerman bermain lebih baik dari kita” katanya.

Tim-tim sepakbola langganan piala dunia pun sempat mengalami beberapa kali kekalahan, bahkan kalah telak. Tetapi mereka nggak pernah berhenti berbenah, selalu kompak.

“Kekalahan, sekali-kali kalah wajar,  kan sudah pernah menang. Biar nggak sedih, untuk sekedar menghibur,  ingatlah ketika dulu pernah menang”.

 

Kalau pelatihnya merasa bertanggung jawab atas kekalahan telak yang memalukan tersebut kemudian mengundurkan diri, ya sudah, PEACE ! Beri kesempatan kepada pelatih yang lain untuk berkarya. “And get back to work !”

Kalau pelatihnya dipecat oleh Asosiasi sepakbolanya karena dianggap dirinyalah orang yang paling bertanggung jawab atas kekalahan telak tersebut, ya sudah, COACH ! Terima saja dengan lapang dada. “Thank’s, you’ve done great job”

Kalau seluruh pihak merasa bersalah karena kekalahan tersebut ? Sepertinya ini yang lebih baik, dan segera bersama-sama, kompak membenahi diri.

Hasilnya ? Ya akhirnya mereka tetap saja langganan piala dunia dan kompetisi mereka (Eropa) malah semakin “menggila”, makin mewabah ke hampir ke seluruh dunia. Khusus tim-tim dari Amerika Latin, seperti Brazil dan Argentina, mereka tidak pernah kering dari bakat-bakat muda yang terus diburu oleh industri sepakbola, khususnya Liga di Eropa.

Kalau kalah tipis lalu bisa berbesar hati dan lapang dada ? Wajar. Tapi ketika mengalami kekalahan telak apalagi posisi atau status sebagai tim kuat seperti yang telah disebut kan di atas, kemudian bisa berbesar hati, menerima dengan lapang dada dan segera berbenah lebih serius lagi untuk perbaikan, itu baru luar biasa.

Tim kuat atau tim unggulan saja bisa kalah telak. apalagi tim yang biasa-biasa saja.

image terbentuk

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

One Response to KOMPAK SEGERA MEMBENAHI DIRI

  1. Pingback: YANG MENANG DAN YANG KALAH « Blog SD18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: