NAIK-NAIK KE PUNCAK …, TINGGI-TINGGI SEKALI

puncak bukit

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang mau dicapai kebanyakan orang adalah sebuah puncak, posisi puncak, posisi yang yang tinggi, ada yang menyebut dengan posisi nomer 1.  Semakin tinggi puncak yang ingin di capai akan semakin sulit jalan menempuhnya. Hanya orang-orang yang tertentu saja yang mampu.  Istimewanya kalau sudah berada di posisi puncak atau tempat tertinggi, itu bisa melihat ke mana-mana, bisa melihat ke segala arah, bisa melihat apa saja, bisa melihat ke arah yang lebih jauh meskipun nggak detil. Tapi itupun tergantung, kalau sudah berada di puncak karena udaranya nyaman lalu banyak makan dan ngantuk, maka susah untuk melihat ke bawah dan paling bawah meski sebetulnya bisa.  Secara umum bisa melihat kejadian-kejadian biasa dan luar biasa yang terjadi di bawah.  Kalau di sebelah utara ada kebakaran bisa terlihat jelas walaupun nggak tau berapa jumlah korbannya, kalau di sebelah selatan ada kebanjiran bisa terlihat jelas, walaupun nggak tau berapa dalam genangan airnya. Kalau posisi yang berada di bawah apalagi paling bawah, nggak terlalu bisa melihat ke arah mana-mana.  Nggak bisa melihat posisi yang berada di sisi lain.  Yang berada di bawah dan paling bawah hanya bisa melihat siapa yang berada di posisi puncak.  Dan yang di bawah dan berada paling bawah bisa mengenal yang sedang berada di puncak tersebut karena yang sedang berada di posisi puncak tersebut pernah melewati mereka-mereka yang di bawah dan berada paling bawah. Kalau yang sedang berada di puncak belum pernah sekalipun melewati yang di bawah dan paling bawah, tiba-tiba bisa berada di puncak jadi aneh. Jadi untuk bisa mencapai puncak dan bisa melihat semua yang berada di bawah ke mana-mana, awalnya juga dari bawah dan paling bawah, tapi ujiannya harus melewati macam-macam rintangan, perlu perjalanan panjang, menghadapi halangan yang luar biasa banyak, godaan-godaan yang tidak sedikit, yang bisa melemahkan mental dalam menempuh perjalanan menuju puncak. Jadi untuk berada di puncak harus benar-benar yang kuat. Karena hembusan angin dingin yang ada di puncak lebih kuat dibanding hembusan angin yang di bawah apalagi paling bawah.  Maka ketika yang berada di atas puncak sudah nggak kuat sebaiknya cepat-cepat turun, resikonya terkena terpaan angin kuat malahan terlempar ke jurang dan mati kedinginan.  Posisi puncak banyak yang berlomba-lomba untuk mencapainya. Cara mencapainya bermacam-macam, ada yang dengan susah payah, ada juga yang dengan jalan pintas.
Kalau di kawasan wisata Puncak Bogor Jabar yang sampai di puncak, walaupun bukan puncak yang sesungguhnya misalnya Puncak Pass, yang tiba di sana bisa ribuan orang.  Setiap ada liburan apalagi liburan panjang, banyak yang berbondong-bondong menaikinya.  Resiko dalam menuju ke sana waktu liburan memang terjebak macet yang parah, tapi ketika sudah sampai di posisi Puncak apalagi Puncak Pas kalau liburan masih panjang, barangkali masih pada betah berada di sana. Gimana nggak betah, hari-hari biasa yang selalu penuh kesibukan di tempat kerja, belum pulang pergi hampir setiap hari terjebak macet, panas pula, maka ketika berada di Puncak, suasana sibuk, ruwet, panas dan lain-lain pun jadi hilang. Meski ketika pulang dari Puncak terancam juga kemacetan yang parah yang ruwet juga.
Meskipun banyak juga yang liburan ke pantai, tapi takutnya selain ada yang bilang dengan kata “ke pantai” yang lainnya ada yang bilang “ke laut”, karena beberapa waktu yang lalu kata-kata “ke laut” dipakai untuk memaknai “diusir”, disuruh pergi jauh-jauh, jadi nggak enak.
Maka ketika liburan hampir usai, yang sudah berada di puncak atau Puncak Pass pun segera berbondong-bondong turun lagi ramai-ramai. Bagaimana kalau masih saja betah dan nggak mau turun ? Silahkan saja, resiko tanggung sendiri.
Yang sukses mencapai puncak tertinggi yang ada di planet bumi ini dan menancapkan bendera juga akhirnya harus turun lagi.
Raja Mesir kuno, Firaun yang ingin terus berada di posisi puncak dan tidak mengakui akan Tuhan yang diberitahu oleh Nabi Musa a.s pun membangun bangunan yang tinggi, lalu naik ke puncaknya untuk memanah Tuhannya Nabi Musa a.s. Entah Firaun menyadari atau tidak, padahal yang di panahnya posisinya ada di atas dia, (namanya juga gengsi nggak mau mengakui).
Putranya Nabi Nuh a.s yang tidak mau mengikuti nasehat ayahnya, menyelamatkan dirinya dengan menaiki sebuah puncak, namun tetap tidak bisa selamat dari hantaman gelombang banjir yang terjadi yang ternyata melebihi puncak di mana dia berada.
Puncak kenikmatan duniawi dalam bentuk apapun, seperti makanan dan sex dan lain-lain, pasti akan sampai klimaksnya dan cepat atau lambat akan turun secara alamiah. Bagaimana kalau dipaksa biar nikmat terus ? Itu berresiko ! (Namanya juga dipaksa).
Tidak ada yang bisa berada di puncak terus kecuali Yang Maha Tinggi. Semuanya pasti akan turun, baik atas dasar sukarela, terpaksa, dipaksa atau secara alamiah.

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: