TANAH AIRKU, TANAH TUMPAH DARAHKU

Untuk mendapatkan hasil dari tanah airku yang sangat subur ini butuh waktu lama sih,  kelamaan menunggu menikmatinya”.  Harus menunggu paling cepat berbulan-bulan,  paling lama pasti memakan waktu bertahun-tahun,  barangkali lima tahun dst.  “Pokoknya lama deh!”

Kepada Yang terhormat dan tercinta : Nenek moyangku,  buyutku, mbahku, kakekku, engkong, aki, eyang, uwo, terima kasih atas kerja kerasnya puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu. “Kami telah menikmati hasil jerih payah Kalian”. “Tetapi kami sepertinya tidak bisa/mampu memelihara warisan Kalian yang sangat berharga tersebut, apalagi bisa mewariskan ke anak-anak dan cucu-cucu kami”.
Jaman jelas telah berubah dan akan terus berubah. Dunia ini sekarang dibilang kecil tapi ternyata besar (kalau kita jalan kaki). Dunia ini sekarang dibilang besar tapi ternyata bisa “diperkecil” (juga dengan hanya jalan kaki).  Dalam hitungan detik kami bisa berjumpa dan bercengkerama dengan orang-orang yang sedang kedinginan atau sedang kepanasan, di belahan bumi sebelah sana di wilayah bumi bagian sini. Tapi dalam hitungan detik juga, kita bisa marahan bertahun-tahun gara-gara dunia yang besar yang bisa diperkecil ini.
Sekarang perlu proses yang cepat untuk hasil yang cepat bisa dinikmati. Sekarang harus bertindak cepat,  bahkan ada yang bilang : “Kalau nggak edan, nggak bakalan keduman” (baca : kebagian).  Yang dulunya setahun hanya dua kali paling banyak tiga kali,  sekarang butuh hasil yang lebih banyak dan nggak mau berlama-lama. Karena kalau kelamaan bisa ketinggalan jauh sama yang lain yang lebih cepat apalagi yang paling cepat, dan nanti bisa-bisa dibilang “jadul” dan aneh, (meski sekarang lagi banyak yang kangen sama yang jadul-jadul).
Sekarang harus sukses dan berhasil dengan cara cepat, instan. Makanan, minumanpun, banyak yang instan, disajikan dan dinikmatinya harus cepat apapun caranya, akhirnya makanan-minuman dan racun bedanya tipis.
Tanah airku sudah sangat sulit menandingi, menyesuaikan diri dengan kecepatan jaman sekarang.  Maka tanah air sudah semakin terus ditinggalkan oleh penggemarnya,  karena terlalu lambat bagi penggemar yang ingin cepat-cepat nikmat. Apalagi sudah cepat, murah lagi. Bandingkan dengan hasil yang lama-lama, sudah mahal berresiko pula. Kalau bisa cepat menikmati (hasilnya) kan enak, nggak usah tunggu lama-lama lagi, apalagi harus tunggu sampai tua (keburu tua). Meminjam slogan kampanye pasangan Capres Cawapres yang dulu, “LEBIH CEPAT LEBIH BAIK”.
Meskipun demikian, dalam situasi tertentu, ada juga yang berusaha memperlambat yang seharusnya dan sewajarnya memang cepat, karena lebih terasa enak dan indah kalau lama dan lambat, tahan lama dan bertahan lama.
Terus bagaimana yah caranya agar tanah airku bisa cepat menandingi kecepatan yang sudah terlanjur digemari orang banyak dan sudah menjadi trend ? Sulit juga. Tanah airku agar bisa cepat, bisa menandingi kecepatan jaman sekarang, trend jaman sekarang, harus KERJA lebih KOTOR, harus mencangkul lebih dalam lagi dan airnya harus disedot sesering mungkin. Akibatnya tanah airku bisa habis terkuras dengan cepat juga kalau dipaksa suruh cepat. Karena kalau KERJA KOTOR nyangkulnya biasa-biasa aja seperti jaman nenek moyang dulu, kurang cepat dan hasilnya kurang memenuhi kuota sekarang.
Mungkin begitulah. Dan apa boleh buat juga, sekarang untuk mendapatkan hasil yang cepat dan bisa langsung dinikmati, tanpa menunggu waktu yang lama dan “Lama amat sih!”, ada yang menggunakan cara “KERJA KOTOR” juga, atau setidaknya “Wah sudah terlanjur basah nih, tanggung, nyebur aja deh sekalian berkubang!” di percampuran tanah dan air yang disebut lumpur”.
Dan ternyata, tanah airku memang begitu kondisinya. Akhirnya mereka yang tidak mau berlama-lama menunggu tanah airku dan maunya dapat segera menikmati, sebagian besar ngumpul dan numpuk di suatu tempat yang kecil tapi bukan dusun terpencil.  Sebagian besar bersusah payah menuju ke sana, ada yang berbondong-bondong. “MANGAN ORA MANGAN SING PENTING NGUMPUL”. Terserah caranya, yang penting bisa menikmati dengan cepat seperti mereka yang lain yang sudah lebih mendapat nikmat dengan cara yang cepat pula.
Bagaimana dengan tanah tumpah darahku ? “Wah, kalau itu dulu kejadiannya, sudah lama sekali, waktu jaman perjuangan. “Kejadian lainnya ?” “Waktu di tempat kelahiran kami, waktu proses diri kami keluar dari dunia sebelumnya”.
Bagaimana dengan tanah airku yang aman sentosa dan makmur ? “Nanti, tunggu kolaborasi antara tanah airku dan tanah tumpah darahku !” “Hasilnya pas atau nggak”
Kalau tanah digerus air sedikit-sedikit ? “Lama kelamaan tanah menyusut” “Karena ya itu tadi, yang hasilnya bisa dinikmati nanti (masih lama) digerus oleh yang lebih enak dan lebih cepat”.
AKhirnya karena ingin dapat nikmat yang lebih cepat dan paling cepat, tanah airpun “naiknya” ikut-ikutan cepat juga.
Rekor kenaikan tercepat yang dicapai oleh tanah, kalau berada di area segitiga emas.
Rekor kenaikan tercepat yang dicapai oleh air sampai saat ini masih di pegang oleh tsunami Aceh yang terjadi pada akhir tahun 2004.
Akhirnya demi hasil yang lebih cepat untuk bisa dinikmati, tanah airpun ditutup dan dibendung. “Abis bikin kotor dan becek sih!” “Apalagi kalau tanah dan air nyampur, bisa jadi lumpur, licin, orang yang datang bisa jijik”. Mendingan ditutup dan dibendung aja, jadiin pijakan yang lain aja, biar diinjaknya enak, meski resiko terpeleset juga ada.  “SLIPPERY WHEN WET”

“Terus bagaimana nasib tanah airku kelak?”  “Nggak tau, tapi pada “akhir …..” nanti,  kami pasti akan “bertemu dan bersatu” dengan tanah airku juga.

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

One Response to TANAH AIRKU, TANAH TUMPAH DARAHKU

  1. Pingback: LIFE STYLE SANDANG PANGAN « Blog SD18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: