PERADABAN KUNO MODERN DAN KESEIMBANGAN

Exploitasi yang gila-gilaan agar bisa balance atau terjadi keseimbangan dapat tercapai atau mungkin biar bisa “nutup.  Semuanya demi mengejar balance atau kesimbangan. Karena kalau tidak seimbang,  bisa-bisa nggak “nutup”, besar pasak daripada tiang,  dianggap pailit dan kolaps, maka hancurlah reputasi dan kredibelitas,  gengsi dong,  malu dong.  Namun sayangnya dengan alasan tersebut eksploitasi yang membabi buta pun marak terjadi di mana-mana. Kompetisi yang semakin lama semakin ketat, memaksa semuanya bergerak kreatif dan (bahkan) nekat,  edan-edanan, kalau perlu pakai celana diketatkan di
bagian tengah (baca: perut), ketatkan ikat pinggang, meski sekarang di jaman sekarang ini sepertinya sulit cari orang yang mau bercelana ketat di bagian tengah alias mengetatkan ikat pinggang.  Kan kalau bisa balance atau tercapai keseimbangan dan juga sukses tanpa ketatkan ikat pinggang, kenapa tidak ? tercapai.  Kalau pengeluaran diperketat pasti banyak.  Pengeluaran untuk apapun diakalin seketat mungkin agar bisa balance.
Eksploitasi demi keseimbangan (balance) yang semakin menggila tersebut sudah tidak memandang lagi apalagi menghormati kesimbangan-kesimbangan yang lain yang harusnya tetap seimbang agar lestari. “Yang penting sekarang, hari ini menentukan hari esok, menentukan balance besok, urusan keseimbangan yang untuk lestari, kelestarian itu urusan nanti.  Bisa dibikin keseimbangan atau balance model baru”. Semoga jadi lestari lagi.

titik api

Hewan langka wild dog

IMAGE KEPALA SUKU

IMAGE HEWAN LANGKA

Tapi sayangnya, sepertinya sangat sulit, karena yang mengejar target balance atau kesimbangan banyak sekali, sudah beranak-pinak bahkan bercucu-pinak, luar biasa kekuatannya dibanding dengan keseimbangan yang seharusnya tetap ada yang sudah dibangun ratusan tahun yang lalu, bahkan ribuan tahun tapi sangat terbatas. Keseimbangan yang sudah lebih dulu ada systemnya apa adanya akhirnya hancur berantakan, padahal sangat dibutuhkan. Dan akhirnya dunia pun memang sedang menuju ke arah “tidak seimbang”. Seperti yang disebutkan di atas, “Karena kalau tidak seimbang, bisa-bisa nggak “nutup”, dianggap pailit dan kolaps”.
Hanya kekuatan yang luar biasa saja yang paling berkuasa menyeimbangkan kembali agar lestari seperti sedia kala.

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: