KERJA ter PAKSA BIAR BISA KEBELI

Kalo nggak maksain beli, gimana aja caranya, kita terpaksa jadi nggak punya, kapan punyanya ?, nggak bakalan dapat apa-apa, nggak bisa terpenuhi. Makanya harus kerja. Jaman dulu, bisa disebut jaman kolonial, di masa penjajahan bangsa penjajah, ada istilah kerja paksa, kerja rodi, Romusha. Bangsa yang serba nggak berdaya jadi tertipu daya oleh bangsa adidaya, nggak tau apa karena kurang daya, nggak cekatan atau hal lainnya, dikerjain (baca: dipekerjakan) dengan paksa agar bisa menghasilkan sesuatu demi target bisa tercapai. Kerja paksanya pasti nggak SANTAI, bikin langkah jadi GONTAI, kakinya DIRANTAI, DIBANTAI akhirnya jatuh (mending) ke PANTAI, lha ini ke kerasnya LANTAI. Tapi bangsa yang kurang daya tadi, yang dipaksa kerja sampai mati-matian (baca: sampe mati beneran) malahan tidak bisa kebeli sesuatupun walau sedikit. Ironisnya yang mereka dapat malah kesengsaraan dan kesedihan yang bisa dirasakan mungkin hingga anak cucu cicit, bahkan hingga ke next next next generation. Meskipun yang dirasakan oleh cucu cicit itu bisa berupa warisan situs sejarah yang bisa juga bermanfaat dan jadi pelajaran bagi generasi berikutnya, tapi sampai kapankah ? “Kalau warisan situs sejarah itu mau digusur demi sebuah pembangunan system baru, gimana ?


Kalau jaman sekarang yang sudah merdeka, sudah terbebas dari belenggu penjajahan, bisa disebut dengan istilah asing Independence Day, sistem kerja paksa barangkali sudah tidak ada lagi. Kalau terpaksa harus kerja, banyak. Karena kebutuhan hidup yang amat sangat mendesak. Apalagi yang harus dibeli itu kebutuhan pokok yang harganya terus ke atas terdesak alias naik, bikin nafas ini jadi terasa sesak. Pada akhirnya bisa kebeli juga sih, tapi jadi lebih sedikit, baik secara itung-itungan kuantitas maupun ukuran kualitas,
“Kemarin-kemarin biasanya kalo beli dua rebu bisa dapet tujuh, sekarang beli dua ribu cuma dapet tiga biji doang”.
“Tadinya barangnya tebel, sekarang kok jadi tipis begini yah? SLIM. Kalo mau beli dengan jumlah yang sama seperti waktu sebelumnya ? “Wah pasti harganya jadi lebih mahal, rogoh kantong lebih dalam lagi, keluarin uang harus lebih banyak. “yah, terpaksa deh harus kerja lebih keras lagi. Ini otak dan fisik harus diputar, di buntang banting lebih kencang lagi.
Yang tadinya muter otaknya 50 kali, sekarang otak nan lembut ini harus diputer sampai 150 kali”. TWISTER
“Bagaimana yang otaknya sebelum diputer memang sudah pusing tujuh keliling barangkali yang disebut dengan istilah mumet lalu harus diputar sebanyak itu ?
Yang tadinya bontang banting fisiknya sampai pegal linu, encok, yang barangkali bisa pulih setelah minum jamu, sekarang buntang banting fisiknya nyaris bikin copot semua organ tubuh, seperti boneka Barbie yang nasibnya tragis berada di tangan para balita.
“Habis pilihannya cuma itu sih !”. Resikonya diriku ini bisa cepat tua, bisa kena sakit tipes, kuning, lever hepatitis dll,  karena kelelahan, over dosis kerja”.

NOW WE ARE OPEN FOR TWENTY FOUR HOURS AND SEVEN DAYS

“Bagaimana nasib mereka yang kerjanya sudah keras tapi nggak bisa diperkeras lagi ? Akan jadi lebih besar pasak daripada tiang, nggak bakalan bisa nutup. Istilah populernya kalau ditranslate ke English jadi “TO DIG HOLE FOR CLOSE HOLE”
“Bagaimana pula nasib mereka yang kerjanya sudah keras, terpaksa dibikin lebih keras lagi, ehh ujung-ujungnya malah nggak kebeli apa-apa juga? Yahh, kalau begitu sih bedanya tipis dengan kerja paksa jaman kolonial dulu.
“Terus apa bedanya dengan dipaksa suruh beli ? Bagi yang nyuruh beli sih enak, kartunya udah ada di tangan mereka, tinggal mainin kartu as-nya.
Kebalikannya, dipaksa beli agar bisa kerja…ada banyak juga. Karena mau kerja demi memenuhi kebutuhan, terutama yang pokok, yaitu pastinya harus dengan cara membeli, maka kerjaannya harus kebeli dulu. Demi membeli harus kebeli. Kalo ke Bali harus membeli, itu sudah pasti, beli tiket, beli karcis masuk, beli cindera mata, beli oleh-oleh dll. Tapi ini demi kebeli harus membeli.
Terpaksa beli agar bisa kerja yang kadang-kadang jadi terpaksa kerja dan dipaksa kerja juga.

Advertisements

About blogini
Site ini berisi tentang gambaran keadaan sosial di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: