ATLIT PLUS

Atlit juga, penghibur juga.  Contoh, 3 orang atlit berikut menjadi jaminan dunia olahraga jadi terasa berbeda, ramai. Tidak seperti juara yang lain, kalau menang ya sudah, terima piala, konfrensi pers dst. Tapi 3 orang atlit berikut sangat dinanti2 kehadirannya baik dalam arena maupun luar arena. Kekalahan sepertinya tidak mengurangi “nilai” jual mereka, termasuk di dunia bisnis, apalagi kalau menang. Bukan hanya punya skill tinggi, tapi mereka juga bertarung di arena untuk menikmatinya, semakin keras perlawanan, akan semakin menarik performancenya.

     Muhammad Ali (Cassius Clay) Big Mouth. Ali .. Ali .. Ali ..teriakan khas suporter. Di ring jadi semacam tempat berakting, menari. Dengan gaya hit and run Ali mampu menunjukkan kelasnya sebagai petinju dunia, dan akan selalu dikenang.  Ali bisa menjadikan ring tinju sebagai arena hiburan yang dinanti-nantikan penggemar tinju. Pasca kekalahannya lawan Larry Holmes, dunia tinju kelas berat mulai menurun, walau ada Mike Tyson yang tanpa kompromi menghajar jatuh lawan belum habis ronde pertama, Evander Holyfield dan Lennox Lewis. Ada beberapa nama yang  cukup populer tapi di kelas yang lebih ringan, Roy Jones Jr, Oscar de La Hoya akhirnya tenggelam. Dunia tinju pro sempat dikuasai Amerika Serikat, karena promotor2 topnya dari sana dan petinjunya juga dari sana, maka tontonan tinju bisa dikemas dengan baik dan laku dijual, bisa sangat populer ke seluruh dunia.

Diego Armando Maradona, sangat populer dengan gol “Tangan Tuhannya” yang menjadi kontroversi, tapi di gol keduanya waktu Argentina versus Inggris pada laga semi final Piala Dunia FIFA di Meksiko tahun 1986, dia membalas dengan aksi berkelas yang hanya mampu ditandingi pemain berkelas juga, dan sangat langka, melewati beberapa pemain belakang sampai gol. Di Timnas Argentina belum ada pemain generasi sesudahnya yang menyamai dia. Javier Zanetti, Sebastian Veron, Diego Simeone,  Riquelme sampai Lionel Messi, belum mampu menyamai Maradona. Nama2 di atas memang pemain jenius dan hebat semua tapi di TImnas Argentina, Maradona menjadi “Jenderal” lapangan, seperti halnya Zinedine Zidane di Perancis, Lothar Matthaeus di Jerman, Luis Figo dari Portugal. Tidak semua pemain hebat bisa menjadi “jenderal lapangan” yang bisa memberi semangat dan motivasi bertanding. Tanpa kehadirannya, Tim Tango terasa kurang lengkap.

Valentino Rossi (The Doctor). Special di dunia olahraga otomotif khususnya MOTOGP. Rossi sangat menarik dan hangat di dalam dan di luar arena balap roda 2. Pembalap berbakat ini sangat menikmati balapan, bukan hanya mengandalkan teknis yang hebat. Rossi sepertinya tidak nyaman berada unggul jauh sendirian di depan, seolah-olah dia mengendurkan sedikit kecepatan motornya, untuk bergabung dengan pembalap lain bersaing. Semakin dia dipressure dari belakang oleh lawan semakin dia menikmati balapan. Tidak perlu start terdepan atau row terdepan, tapi Rossi bisa memprediksi di lap ke berapa berada terdepan.

Mewakili  3 generasi, atlit seperti 3 nama tersebut di era sekarang akan sulit dicari, “atlet plus” akan langka. Ada sesuatu yang dinantikan para penonton selain teknik tinggi dari ke 3 atlit tersebut dalam setiap penampilannya. Ada satu nama lagi yang memenuhi kriteria atlit plus : David Beckham, namun sayang Becks tidak pernah meraih Piala Dunia sekalipun.

LEGENDA SEPAKBOLA

Kalau mendengar kata legenda, maka yang terbayang adalah sebuah cerita atau kisah yang bernuansa klasik atau etnik, beberapa diantaranya berkesan mistik, dramatis, emosional, sarat dengan nilai-nilai pelajaran dan mungkin durasi kisahnya lebih panjang tapi nggak rumit, dikenang sampai sekarang. Dalam konteks yang lain, olahraga misalnya, penggunaan kata legenda juga digunakan oleh beberapa komunitas untuk sebuah gelar yang disandang seorang atlit, atau julukan yang pantas, karena atlit tersebut berprestasi di atas rata-rata atlit lain.

Di dunia sepakbola ada beberapa nama pemain yang telah menyandang gelar legenda tersebut yang meski nggak resmi tapi diakui oleh banyak kalangan, khususnya kalangan sepakbola. Contohnya : Pele dari Brasil, mempunyai rekor gol yang banyak dengan gaya yang indah.

Maradona dari Argentina, yang secara individu, skillnya di atas rata-rata dan menjadi motivator tim nasional Aregentina 1986.

Johan Cruyff dari Belanda dengan “Total Footballnya” atau Michelle Platini dari Perancis yang sempat mendapat julukan Brasil-nya Eropa.   Jaman sekarang ini di dunia sepakbola, akan sulit untuk melahirkan legenda sepakbola baru, baik untuk tingkat klub ataupun tim nasional, yang paling mungkin hanya  julukan : Pele abad ini, atau Maradona dari …dll. Mana itu Juan Roman Riquelme, yang pernah disebut gelandang jenius, mana itu Ronaldinho, Ricardo Kaka, Robinho, Fransesco Toti, paling heboh cuma publikasi berulang-ulang dari media, misalnya berita yang sama tentang Cesc Fabregas yang selalu dihubung-hubungkan dengan Barcelona

atau dari Palermo Italia, seorang pemain hebat bernama Javier Pastore telah ditawar oleh beberapa klub besar Eropa dengan harga mahal, tapi belum disebutkan klub mana.  Pemain tersebut sangat berbakat, paling cuma sebatas itu. Beberapa tahun terakhir, para pemain jenius dan berbakat tersebut malah seperti bola pingpong, pindah sana pindah sini.  Sangat panjang dan berat perjalanan seorang pemain untuk mencapai level legenda seperti yang didefinisikan di awal tulisan ini. Skill, teknik yang tinggi belum bisa dijadikan pemain tersebut jadi legenda, apalagi pemain tersebut belum pernah mengantarkan timnya menjadi juara di event besar yang menjadi salah satu syarat utama, terutama Piala Dunia.

OLAHRAGA SEPAKBOLA DAN BELAJAR DARI SEPAKBOLA

Banyak sekali pelajaran positif yang bisa diambil walau hanya dari sebuah permainan, khususnya permainan sepakbola. Seperti profil seorang pemain sepakbola terkenal Eropa atau dunia yang diliput dalam sebuah tayangan di media, baik televisi atau internet atau juga tabloid. Bukan liputan dalam hal-hal yang bersifat teknis saja bahkan liputan para pemain terkenal tapi dalam “kemasan” selebritis. Misalnya pasangannya yang cantik-cantik dan seksi-seksi, life stylenya yang glamour, dandanannya yah unik-unik, rumahnya yang mewah, mobil mahalnya, “kelakuannya”, baik yang miring maupun yang lurus bahkan pernah ada tayangan pemain-pemain terkenal dunia sewaktu mereka masih balita.
Eropa walaupun masih juga sering banyak masalah dengan liga sepakbolanya, seperti masalah bola melewati garis dalam gawang tapi wasit dan hakim garis nggak lihat, bola yang terlalu ringan sehingga ketika ditendang jadi nggak lurus, penonton yang rasis, wasit yang berat sebelah, sampai yang paling heboh, golnya Diego Armando Maradona yang disebut “GOL TANGAN TUHAN”, tapi mereka tetap bertekad dan komit terus melangkah maju ke depan, entah sampai level apa? sampai tahun berapa ?, piala dunia sedang berlangsung, Piala UEFA sedang berlangsung, event berikutnya sudah dibahas, bahkan karena mereka berprinsip terus melangkah maju ke depan, bukan tidak mungkin suatu saat Piala Dunia atau UEFA bisa saja diadakan di Gurun Sahara, atau di Benua Antartika atau Hutan Amazon, atau bahkan di bulan ? atau di Planet merah Mars? Jangan sampai karena ada satu masalah yang sederhana jadi menghambat semuanya, mutu dan prestasi yang paling utama. Nggak peduli pemainnya siapa, yang terkenal atau tidak, kalau mengganggu ketertiban, ya dihukum. Contoh, aksi saling meludah antara pemain timnas Jerman (waktu itu masih Jerman Barat) Rudi Voeller dengan pemain Belanda Frank Rijkaard di Piala Dunia 1990 di Itali, pemain Manchester United asal Perancis Eric Cantona dengan tendangan kungfunya ke penonton, Pemain timnas Prancis Zinedine Zidane dengan tandukan ke dada Marco Materazzi yang dianggap menghina ibundanya. Bahkan pelatih ngetop yang rese namun jadi heboh, seperti Jose Mourinho yang waktu itu masih melatih Real Madrid yang menjewer telinga seorang asisten pelatih Barcelona Tito Vilanova atau pemain cadangan yang ikut-ikutan rusuh pun bisa dikartu merah.
Secara sederhananya dari sisi teknis permainan, mereka sudah sangat mapan. Bisa dibuktikan di tayangan-tayangan liganya, penonton, wasit, pemain, official dan semua yang terlibat di suatu pertandingan, semuanya profesional. Manusia di benua Eropa, punya sifat dan karakter yang kurang lebih sama dengan manusia Indonesia, kecuali fisiknya, Eropa kan sebagian besar bule, berkulit putih, mereka juga bisa masih sering ribut tanpa kendali, menangis sedih, emosi membuat onar di luar lapangan, rusuh, holigan, kalau kenyataannya timnya kalah, mereka juga akan menangis haru kalau timnya menang, gembira, senang, pesta turun ke jalan dll. Tapi kenapa pertandingan di Eropa sana, kok bisa, yang sisi lapangannya yang hanya dibatasi papan reklame, yang akhirnya sekarang malah sudah digital yang canggih, penonton, termasuk wanita dan anak-anak bisa duduk manis dengan tertib, santai. Kenapa pertandingan mereka bisa mengundang investor besar dari seluruh dunia, termasuk Indonesia untuk menanamkan sahamnya di klub-klub elit ?.
Motivasi, kerja keras dan pengorbanan macam apa yang telah mereka lakukan hingga mereka sukses mengemas sebuah permainan yang teori dasarnya adalah: “Ada satu benda bulat yang terbuat dari kulit yang harus dikejar-kejar lalu direbut dengan berbagai macam cara, lalu ditendang agar masuk ke gawang lawan”, menjadi bisnis besar, yang bisa menghasilkan uang banyak bagi para pelaku yang terlibat.
Kerja keras dan pengorbanan yang telah mereka lakukan hingga mereka sukses mengemas sebuah permainan bisa jadi pelajaran untuk hal-hal yang lebih besar dan luas.

SEPAKBOLA INDONESIA

Kalau mengikuti siaran langsung pertandingan sepakbola,  seperti Liga Champion atau mungkin EURO bahkan FIFA World Cup yang broadcast dari benua Eropa, persiapan kita untuk nontonnya pasti  “luar biasa”, dari tidur sore, minum kopi dulu dll.  Maklum kalau LIVE dari Eropa, di Indonesia jadi dini hari, sekitar pukul 02.00, di mana waktu tersebut, kelopak mata terasa ada yang nemplokin, berat alias ngantuk berat, apalagi jam 03:00,  (maka berhati2-lah !.. maling biasa beroperasi jam segini).  Sebagian orang bisa saja tahan dan sudah terbiasa, tapi pasti mereka akan merasakan kantuknya di pagi hari. Kalau tim kesayangan kita menang, investasi waktu kita untuk begadang jadi nggak sia-sia, tapi kalau kalah ?… Ada juga sih, “meski kalah tapi dia sendiri malah menang”.  Sepakbola akhir2 ini minim gol, termasuk di pertandingan Liga Indonesia. Mungkin sepakbola lebih cocok sebagai olahraga strategi, lebih mementingkan proses dari pada hasil. Masalah gol seolah cuma pelengkap dari proses tersebut. Sebagai contoh bisa disimak dari permainan tim juara dunia 2010, kesebelasan Spanyol di Piala Dunia Afrika Selatan lalu, mereka selalu bermain impressive, penguasaan bola yang nyaris sempurna, terutama di lapangan tengah, magic football, tapi Spanyol kebanyakan cuma menang dengan skor 1-0, termasuk di partai puncak. Saya jadi ada ide untuk PSSI, khusus untuk sepakbola Indonesia, syukur2 sih ada pengurus PSSI yang solid, atau AFC atau bahkan FIFA yg ngerti bahasa Indonesia kebetulan mampir di blog ini. Bagaimana jika sistem penilaian di dalam skor pertandingan sepakbola khususnya liga Indonesia atau Liga Primer (whatever) dimodifikasi ?. Selama ini menurut aturan FIFA, dalam suatu pertandingan sepakbola :

– Untuk pemenang dengan skor berapapun mendapat nilai 3
– Kalau seri dengan skor berapapun dapat nilai 1
– Kalau kalah dengan skor berapapun nilainya 0

Dimodifikasi menjadi :

1. Untuk pemenang dengan skor 1-0, 2-0 s/d 3-0, tetap mendapat nilai 3
2. Tapi untuk pemenang dengan skor 4-0 dst atau selisih empat angka lebih, misal 5-1, 6-1 dst mendapat nilai 4.
3. Kalau seri dengan skor 0-0 alias “kacamata”, kedua tim tidak mendapat nilai alias 0
4. Kalau seri dengan skor 1-1 dst mendapat nilai 1
5. Kalau kalah dengan skor berapapun nilainya tetap 0

Kenapa harus dimodifikasi ?. Saya pribadi menilai dari sisi hiburan, semakin banyak gol yang terjadi dalam satu pertandingan sepakbola, akan semakin seru dan menarik pertandingan tersebut, karena untuk tim pemenang telah menyuguhkan pertandingan yang berkualitas dan juga untuk memancing kedua tim bermain agresif, persaingan akan semakin ketat. Coba kalau hasil seri 0-0 (kacamata), kan kurang seru tuh pertandingan, mistar gawang gede tapi jarang ada bola yang masuk. Dan juga salah satu cara untuk menghindari permainan “safe”, yang dilakukan kedua kesebelasan yang bisa menurunkan kualitas permainan. Sebagai contoh kalau di Amerika Serikat dan Jepang setiap pertandingan sepakbola harus ada pemenangnya, kalau terjadi seri ada perpanjangan waktu sampai adu penalti.

Mudah-mudahan system ini berguna bagi sepakbola Indonesia yang sebenarnya punya potensi besar,  apalagi dari sisi bisnis, bisa melebihi Inggris, Spanyol atau Itali, kalau terus diurus dengan baik , profesional dan nggak pake “ribut-ribut” berlarut-larut. Dan kedepannya bisa punya sepakbola khas Indonesia.