LEGENDA SEPAKBOLA

Kalau mendengar kata legenda, maka yang terbayang adalah sebuah cerita atau kisah yang bernuansa klasik atau etnik, beberapa diantaranya berkesan mistik, dramatis, emosional, sarat dengan nilai-nilai pelajaran dan mungkin durasi kisahnya lebih panjang tapi nggak rumit, dikenang sampai sekarang. Dalam konteks yang lain, olahraga misalnya, penggunaan kata legenda juga digunakan oleh beberapa komunitas untuk sebuah gelar yang disandang seorang atlit, atau julukan yang pantas, karena atlit tersebut berprestasi di atas rata-rata atlit lain.

Di dunia sepakbola ada beberapa nama pemain yang telah menyandang gelar legenda tersebut yang meski nggak resmi tapi diakui oleh banyak kalangan, khususnya kalangan sepakbola. Contohnya : Pele dari Brasil, mempunyai rekor gol yang banyak dengan gaya yang indah.

Maradona dari Argentina, yang secara individu, skillnya di atas rata-rata dan menjadi motivator tim nasional Aregentina 1986.

Johan Cruyff dari Belanda dengan “Total Footballnya” atau Michelle Platini dari Perancis yang sempat mendapat julukan Brasil-nya Eropa.   Jaman sekarang ini di dunia sepakbola, akan sulit untuk melahirkan legenda sepakbola baru, baik untuk tingkat klub ataupun tim nasional, yang paling mungkin hanya  julukan : Pele abad ini, atau Maradona dari …dll. Mana itu Juan Roman Riquelme, yang pernah disebut gelandang jenius, mana itu Ronaldinho, Ricardo Kaka, Robinho, Fransesco Toti, paling heboh cuma publikasi berulang-ulang dari media, misalnya berita yang sama tentang Cesc Fabregas yang selalu dihubung-hubungkan dengan Barcelona

atau dari Palermo Italia, seorang pemain hebat bernama Javier Pastore telah ditawar oleh beberapa klub besar Eropa dengan harga mahal, tapi belum disebutkan klub mana.  Pemain tersebut sangat berbakat, paling cuma sebatas itu. Beberapa tahun terakhir, para pemain jenius dan berbakat tersebut malah seperti bola pingpong, pindah sana pindah sini.  Sangat panjang dan berat perjalanan seorang pemain untuk mencapai level legenda seperti yang didefinisikan di awal tulisan ini. Skill, teknik yang tinggi belum bisa dijadikan pemain tersebut jadi legenda, apalagi pemain tersebut belum pernah mengantarkan timnya menjadi juara di event besar yang menjadi salah satu syarat utama, terutama Piala Dunia.

OLAHRAGA SEPAKBOLA DAN BELAJAR DARI SEPAKBOLA

Banyak sekali pelajaran positif yang bisa diambil walau hanya dari sebuah permainan, khususnya permainan sepakbola. Seperti profil seorang pemain sepakbola terkenal Eropa atau dunia yang diliput dalam sebuah tayangan di media, baik televisi atau internet atau juga tabloid. Bukan liputan dalam hal-hal yang bersifat teknis saja bahkan liputan para pemain terkenal tapi dalam “kemasan” selebritis. Misalnya pasangannya yang cantik-cantik dan seksi-seksi, life stylenya yang glamour, dandanannya yah unik-unik, rumahnya yang mewah, mobil mahalnya, “kelakuannya”, baik yang miring maupun yang lurus bahkan pernah ada tayangan pemain-pemain terkenal dunia sewaktu mereka masih balita.
Eropa walaupun masih juga sering banyak masalah dengan liga sepakbolanya, seperti masalah bola melewati garis dalam gawang tapi wasit dan hakim garis nggak lihat, bola yang terlalu ringan sehingga ketika ditendang jadi nggak lurus, penonton yang rasis, wasit yang berat sebelah, sampai yang paling heboh, golnya Diego Armando Maradona yang disebut “GOL TANGAN TUHAN”, tapi mereka tetap bertekad dan komit terus melangkah maju ke depan, entah sampai level apa? sampai tahun berapa ?, piala dunia sedang berlangsung, Piala UEFA sedang berlangsung, event berikutnya sudah dibahas, bahkan karena mereka berprinsip terus melangkah maju ke depan, bukan tidak mungkin suatu saat Piala Dunia atau UEFA bisa saja diadakan di Gurun Sahara, atau di Benua Antartika atau Hutan Amazon, atau bahkan di bulan ? atau di Planet merah Mars? Jangan sampai karena ada satu masalah yang sederhana jadi menghambat semuanya, mutu dan prestasi yang paling utama. Nggak peduli pemainnya siapa, yang terkenal atau tidak, kalau mengganggu ketertiban, ya dihukum. Contoh, aksi saling meludah antara pemain timnas Jerman (waktu itu masih Jerman Barat) Rudi Voeller dengan pemain Belanda Frank Rijkaard di Piala Dunia 1990 di Itali, pemain Manchester United asal Perancis Eric Cantona dengan tendangan kungfunya ke penonton, Pemain timnas Prancis Zinedine Zidane dengan tandukan ke dada Marco Materazzi yang dianggap menghina ibundanya. Bahkan pelatih ngetop yang rese namun jadi heboh, seperti Jose Mourinho yang waktu itu masih melatih Real Madrid yang menjewer telinga seorang asisten pelatih Barcelona Tito Vilanova atau pemain cadangan yang ikut-ikutan rusuh pun bisa dikartu merah.
Secara sederhananya dari sisi teknis permainan, mereka sudah sangat mapan. Bisa dibuktikan di tayangan-tayangan liganya, penonton, wasit, pemain, official dan semua yang terlibat di suatu pertandingan, semuanya profesional. Manusia di benua Eropa, punya sifat dan karakter yang kurang lebih sama dengan manusia Indonesia, kecuali fisiknya, Eropa kan sebagian besar bule, berkulit putih, mereka juga bisa masih sering ribut tanpa kendali, menangis sedih, emosi membuat onar di luar lapangan, rusuh, holigan, kalau kenyataannya timnya kalah, mereka juga akan menangis haru kalau timnya menang, gembira, senang, pesta turun ke jalan dll. Tapi kenapa pertandingan di Eropa sana, kok bisa, yang sisi lapangannya yang hanya dibatasi papan reklame, yang akhirnya sekarang malah sudah digital yang canggih, penonton, termasuk wanita dan anak-anak bisa duduk manis dengan tertib, santai. Kenapa pertandingan mereka bisa mengundang investor besar dari seluruh dunia, termasuk Indonesia untuk menanamkan sahamnya di klub-klub elit ?.
Motivasi, kerja keras dan pengorbanan macam apa yang telah mereka lakukan hingga mereka sukses mengemas sebuah permainan yang teori dasarnya adalah: “Ada satu benda bulat yang terbuat dari kulit yang harus dikejar-kejar lalu direbut dengan berbagai macam cara, lalu ditendang agar masuk ke gawang lawan”, menjadi bisnis besar, yang bisa menghasilkan uang banyak bagi para pelaku yang terlibat.
Kerja keras dan pengorbanan yang telah mereka lakukan hingga mereka sukses mengemas sebuah permainan bisa jadi pelajaran untuk hal-hal yang lebih besar dan luas.