POLITIK DAN SEPAKBOLA

Politik.. oh politik.  Kalau tanpa sengaja melihat para pengamat politik yang sedang komentar masalah politik,  terus mereka analisa, langsung pindah channel aja deh,  soalnya nggak ngerti,  kayanya mereka cuma memprediksi dan menerka-nerka,  jalannya ke arah sana atau ke arah sini (kayaknya lho ya), kesannya nggak ada yang jelas.  “Semoga cepat selesai ya Pak”.  Yang pasti politik tujuannya untuk sebuah kemenangan juga.
Tapi kabarnya selain jadi sebuah industri olahraga termasuk otomotif,  yang awalnya aktifitas untuk kesehatan tersebut bisa juga dijadikan alat politik, propaganda, akhirnya jadi terkesan jelek, karena demi kemenangan sesuatu yang nggak ada hubungannya dengan aktifitas olahraga. Caranya dengan “memperalat” acara olahraga, kualitas olahraga pun jadi buruk.
Ada satu lagi, misalnya di cabang sepakbola. Demi kemenangan, beberapa pertandingan diwarnai dengan peristiwa kontroversial non-teknis. Meskipun kejadian non-teknis tersebut bisa saja bukan penyebab langsung kemenangan sebuah tim, tapi setidaknya setelah kejadian tersebut, peta permainan jadi berubah total. Beberapa pengamat menilai hal ini terjadi karena dalam pertandingan tersebut ke dua tim kekuatannya berimbang atau ada juga salah satu tim sedikit lebih unggul, hingga pelatih atau pemain yang sedikit di bawah angin, tapi punya pengalaman dan ketenangan mental,  punya “strategi lain”,  agar bisa meraih kemenangan. Apakah ini disebut politik juga atau bukan, nggak jelas.  Seandainya memang salah satu contoh politik juga, tapi itu politik yang bisa membuat pertandingan jadi makin seru.  Dan yang pasti ada macam-macam cara untuk meraih kemenangan,  ada juga yang berprinsip, yang penting menang. Yang paling seru, kejadian konroversial non-teknis yang terjadi dalam pertandingan ini melibatkan tim-tim besar dan sudah melewati babak penyisihan, perempat final sampai grand final.
Berikut beberapa contoh pertandingan di piala dunia yang diwarnai kontroversial non-teknis.
1. Pertandingan antara timnas Jerman Barat vs Belanda pada Piala dunia 1990 di Italia, di mana terjadi aksi saling meludah antara Striker timnas Jerman Barat Rudi Voeller dan bek timnas Belanda yaitu Frank Rijkaard. Ada pengamat menganalisa, “sandiwara” tersebut dirancang oleh tim Jerman Barat, di mana di pertandingan tersebut Jerman Barat mengakui dan sangat sulit melewati pemain-pemain belakang Belanda yang dikoordinir oleh Frank Rijkaard. Akhirnya Jerman Barat sampai “rela” mengorbankan striker sekelas Rudi Voeller untuk dikartu merahkan oleh wasit demi mengkartu-merahkan juga bek Frank Rijkaard, dengan cara memprovokasi Frank Rijkaard untuk membalas semburan ludah Rudi Voeller dengan ludahnya juga. Setelah keluarnya dua pemain penting tersebut, peta permainan pun berubah total, dan Jerman Barat pun unggul dengan gol yang justru dicetak oleh pemain belakang Andreas Brehme.
2. Pertandingan antara Inggris vs Argentina pada Piala Dunia 1998 di Perancis. Banyak pengamat menilai telah terjadi kasus kontroversial antara pemain tengah tim tango Argentina Diego Simeone dengan gelandang berbakat Inggris David Beckham. Di mana pemain kunci David Beckham terpancing emosinya karena terprovokasi oleh ulah Diego Simeone, yang berujung dikartu-merahkannya David Beckham, maka Inggris pun takluk di tangan tim Tango Argentina.
3. Pertandingan antara Italia melawan Perancis di grand final Piala DUnia 2006 di Jerman. Dalam tersebut terlihat Perancis dengan jenderalnya, Zinedine Zidane, sedikit di atas angin. Namun entah karena beberapa pemain tim Italia “kreatif” atau ada instruksi lain, muncullah strategi non-teknis lain, yaitu “mematikan” dengan cara lain pemain kunci tim Perancis, Zinedine Zidane yang terprovokasi karena merasa ortunya dihina lalu menanduk sampai jatuh “aktor” dari Italia yaitu pemain belakang Marco Materazzi. Akhirnya permainan Perancis pun jadi tumpul, karena dikartu-merahkannya playmaker Zinedine Zidane.
4. Di piala dunia 2010, tim Matador Spanyol, sempat menghadapi juga tekanan-tekanan berat dari para pemain Belanda, tapi memang tim Spanyol dari beberapa kejuaraan piala dunia sudah “pantas” menjadi juara, mereka akhirnya bisa menguasai situasi.
Mungkin juga contoh kejadian-kejadian non-teknis seperti di atas dipicu oleh suasana yang panas dan semakin panas dari para pemain di lapangan. Tapi dari 3 contoh pertama, berhubung yang kena kartu merah pemain pilar semua, sedikit banyak ada “sesuatu” yang lain.
Ada perbedaan antara tim-tim yang sudah beberapa kali juara dunia dengan yang belum pernah juara bahkan belum pernah ikut putaran final piala dunia. Secara teknis permainan, sebetulnya nggak terlalu jauh antara tim besar dengan tim peserta piala dunia lainnya, tapi perbedaan semakin terlihat jelas ketika sudah memasuki perempat final dst. Pertandingan di level perempat final sampai grand final, bagi tim besar bukan hanya teknis saja, tapi mereka juga telah siap bertanding menghadapi faktor non-teknis lainnya. Di sini mungkin tim-tim yang belum pernah juara bahkan yang hanya bisa masuk perdelapan final, belum siap secara mental menghadapinya dibanding tim-tim yang sudah berpengalaman. Karena pertandingan di sistem gugur bukan hanya permainan teknis saja tapi juga sangat menguras emosi, hingga akhirnya tim yang bermental “lebih” lah yang sedikit lebih unggul. Contoh timnas Korea Selatan di piala dunia 2002 lalu, mereka mengukir prestasi bisa masuk semi final, tapi akhirnya gagal ke final dikalahkan Jerman, padahal Korea Selatan manjadi tuan rumah yang didukung penuh puluhan ribu suporternya dan mereka sedang pede, karena di babak sebelumnya sukses mengalahkan tim-tim kuat Eropa, seperti Portugal, Spanyol hingga Italia. Tapi tim tamu Jerman yang berpengalaman tenang menghadapinya.
Walaupun kejadian-kejadian non-teknis yang kontroversial seperti di atas sering terjadi di arena sepakbola, tapi sepakbola tetap seru untuk ditonton.
Atau tanpa kejadian kontroversial non-teknis seperti tadi, sepakbola malah jadi kurang seru ?
Kita tunggu dan buktikan di even-event Piala Dunia berikutnya.

OLAHRAGA JADI INDUSTRI

ATLIT PLUS

Atlit juga, penghibur juga.  Contoh, 3 orang atlit berikut menjadi jaminan dunia olahraga jadi terasa berbeda, ramai. Tidak seperti juara yang lain, kalau menang ya sudah, terima piala, konfrensi pers dst. Tapi 3 orang atlit berikut sangat dinanti2 kehadirannya baik dalam arena maupun luar arena. Kekalahan sepertinya tidak mengurangi “nilai” jual mereka, termasuk di dunia bisnis, apalagi kalau menang. Bukan hanya punya skill tinggi, tapi mereka juga bertarung di arena untuk menikmatinya, semakin keras perlawanan, akan semakin menarik performancenya.

     Muhammad Ali (Cassius Clay) Big Mouth. Ali .. Ali .. Ali ..teriakan khas suporter. Di ring jadi semacam tempat berakting, menari. Dengan gaya hit and run Ali mampu menunjukkan kelasnya sebagai petinju dunia, dan akan selalu dikenang.  Ali bisa menjadikan ring tinju sebagai arena hiburan yang dinanti-nantikan penggemar tinju. Pasca kekalahannya lawan Larry Holmes, dunia tinju kelas berat mulai menurun, walau ada Mike Tyson yang tanpa kompromi menghajar jatuh lawan belum habis ronde pertama, Evander Holyfield dan Lennox Lewis. Ada beberapa nama yang  cukup populer tapi di kelas yang lebih ringan, Roy Jones Jr, Oscar de La Hoya akhirnya tenggelam. Dunia tinju pro sempat dikuasai Amerika Serikat, karena promotor2 topnya dari sana dan petinjunya juga dari sana, maka tontonan tinju bisa dikemas dengan baik dan laku dijual, bisa sangat populer ke seluruh dunia.

Diego Armando Maradona, sangat populer dengan gol “Tangan Tuhannya” yang menjadi kontroversi, tapi di gol keduanya waktu Argentina versus Inggris pada laga semi final Piala Dunia FIFA di Meksiko tahun 1986, dia membalas dengan aksi berkelas yang hanya mampu ditandingi pemain berkelas juga, dan sangat langka, melewati beberapa pemain belakang sampai gol. Di Timnas Argentina belum ada pemain generasi sesudahnya yang menyamai dia. Javier Zanetti, Sebastian Veron, Diego Simeone,  Riquelme sampai Lionel Messi, belum mampu menyamai Maradona. Nama2 di atas memang pemain jenius dan hebat semua tapi di TImnas Argentina, Maradona menjadi “Jenderal” lapangan, seperti halnya Zinedine Zidane di Perancis, Lothar Matthaeus di Jerman, Luis Figo dari Portugal. Tidak semua pemain hebat bisa menjadi “jenderal lapangan” yang bisa memberi semangat dan motivasi bertanding. Tanpa kehadirannya, Tim Tango terasa kurang lengkap.

Valentino Rossi (The Doctor). Special di dunia olahraga otomotif khususnya MOTOGP. Rossi sangat menarik dan hangat di dalam dan di luar arena balap roda 2. Pembalap berbakat ini sangat menikmati balapan, bukan hanya mengandalkan teknis yang hebat. Rossi sepertinya tidak nyaman berada unggul jauh sendirian di depan, seolah-olah dia mengendurkan sedikit kecepatan motornya, untuk bergabung dengan pembalap lain bersaing. Semakin dia dipressure dari belakang oleh lawan semakin dia menikmati balapan. Tidak perlu start terdepan atau row terdepan, tapi Rossi bisa memprediksi di lap ke berapa berada terdepan.

Mewakili  3 generasi, atlit seperti 3 nama tersebut di era sekarang akan sulit dicari, “atlet plus” akan langka. Ada sesuatu yang dinantikan para penonton selain teknik tinggi dari ke 3 atlit tersebut dalam setiap penampilannya. Ada satu nama lagi yang memenuhi kriteria atlit plus : David Beckham, namun sayang Becks tidak pernah meraih Piala Dunia sekalipun.