OLAHRAGA SEPAKBOLA DAN BELAJAR DARI SEPAKBOLA

Banyak sekali pelajaran positif yang bisa diambil walau hanya dari sebuah permainan, khususnya permainan sepakbola. Seperti profil seorang pemain sepakbola terkenal Eropa atau dunia yang diliput dalam sebuah tayangan di media, baik televisi atau internet atau juga tabloid. Bukan liputan dalam hal-hal yang bersifat teknis saja bahkan liputan para pemain terkenal tapi dalam “kemasan” selebritis. Misalnya pasangannya yang cantik-cantik dan seksi-seksi, life stylenya yang glamour, dandanannya yah unik-unik, rumahnya yang mewah, mobil mahalnya, “kelakuannya”, baik yang miring maupun yang lurus bahkan pernah ada tayangan pemain-pemain terkenal dunia sewaktu mereka masih balita.
Eropa walaupun masih juga sering banyak masalah dengan liga sepakbolanya, seperti masalah bola melewati garis dalam gawang tapi wasit dan hakim garis nggak lihat, bola yang terlalu ringan sehingga ketika ditendang jadi nggak lurus, penonton yang rasis, wasit yang berat sebelah, sampai yang paling heboh, golnya Diego Armando Maradona yang disebut “GOL TANGAN TUHAN”, tapi mereka tetap bertekad dan komit terus melangkah maju ke depan, entah sampai level apa? sampai tahun berapa ?, piala dunia sedang berlangsung, Piala UEFA sedang berlangsung, event berikutnya sudah dibahas, bahkan karena mereka berprinsip terus melangkah maju ke depan, bukan tidak mungkin suatu saat Piala Dunia atau UEFA bisa saja diadakan di Gurun Sahara, atau di Benua Antartika atau Hutan Amazon, atau bahkan di bulan ? atau di Planet merah Mars? Jangan sampai karena ada satu masalah yang sederhana jadi menghambat semuanya, mutu dan prestasi yang paling utama. Nggak peduli pemainnya siapa, yang terkenal atau tidak, kalau mengganggu ketertiban, ya dihukum. Contoh, aksi saling meludah antara pemain timnas Jerman (waktu itu masih Jerman Barat) Rudi Voeller dengan pemain Belanda Frank Rijkaard di Piala Dunia 1990 di Itali, pemain Manchester United asal Perancis Eric Cantona dengan tendangan kungfunya ke penonton, Pemain timnas Prancis Zinedine Zidane dengan tandukan ke dada Marco Materazzi yang dianggap menghina ibundanya. Bahkan pelatih ngetop yang rese namun jadi heboh, seperti Jose Mourinho yang waktu itu masih melatih Real Madrid yang menjewer telinga seorang asisten pelatih Barcelona Tito Vilanova atau pemain cadangan yang ikut-ikutan rusuh pun bisa dikartu merah.
Secara sederhananya dari sisi teknis permainan, mereka sudah sangat mapan. Bisa dibuktikan di tayangan-tayangan liganya, penonton, wasit, pemain, official dan semua yang terlibat di suatu pertandingan, semuanya profesional. Manusia di benua Eropa, punya sifat dan karakter yang kurang lebih sama dengan manusia Indonesia, kecuali fisiknya, Eropa kan sebagian besar bule, berkulit putih, mereka juga bisa masih sering ribut tanpa kendali, menangis sedih, emosi membuat onar di luar lapangan, rusuh, holigan, kalau kenyataannya timnya kalah, mereka juga akan menangis haru kalau timnya menang, gembira, senang, pesta turun ke jalan dll. Tapi kenapa pertandingan di Eropa sana, kok bisa, yang sisi lapangannya yang hanya dibatasi papan reklame, yang akhirnya sekarang malah sudah digital yang canggih, penonton, termasuk wanita dan anak-anak bisa duduk manis dengan tertib, santai. Kenapa pertandingan mereka bisa mengundang investor besar dari seluruh dunia, termasuk Indonesia untuk menanamkan sahamnya di klub-klub elit ?.
Motivasi, kerja keras dan pengorbanan macam apa yang telah mereka lakukan hingga mereka sukses mengemas sebuah permainan yang teori dasarnya adalah: “Ada satu benda bulat yang terbuat dari kulit yang harus dikejar-kejar lalu direbut dengan berbagai macam cara, lalu ditendang agar masuk ke gawang lawan”, menjadi bisnis besar, yang bisa menghasilkan uang banyak bagi para pelaku yang terlibat.
Kerja keras dan pengorbanan yang telah mereka lakukan hingga mereka sukses mengemas sebuah permainan bisa jadi pelajaran untuk hal-hal yang lebih besar dan luas.

TAYANGAN LIGA EROPA

ayangan-tayangan spektakuler pertandingan liga sepakbola di Eropa yang semakin rutin dan gencar di beberapa stasiun televisi bisa saja melemahkan semangat bertanding pemain-pemain sepakbola Indonesia. Dalam satu minggu banyak sekali acara-acara tayangan sepakbola Eropa dari Spanyol, Inggris, Itali, Perancis ditambah highlight-highlight dan ulasannya yang malah lebih banyak dipenuhi dengan sisi komersialnya dibanding teknik-teknik permainan sepakbola itu sendiri.  Ada satu judul acara, mungkin untuk memancing pemirsa lebih banyak. “BIG MATCH”..! Judul ini dulu dipakai untuk tayangan pertandingan antara klub papan atas saja, seperti Charity SHield, El-Clasico, Liga Champion atau Piala Toyota di Tokyo, tapi sekarang semua tayangan pertandingan nggak peduli klub papan atas, tengah dan bawah ada di Big Match. Jangan berharap ada pemain yang berbakat, memiliki skill tinggi, bisa bertahan lama di klub kaya Eropa, paling cuma di atas kertas, kontrak selama 5 tahun, misal. Baru setahun merumput, pemain tersebut sering dibangku-cadangkan, bahkan dipinjamkan ke klub lain, nggak peduli meski usianya masih muda.  Banyak contoh,  Ronaldo,  Ronaldinho, Robinho,  Ricardo Kaka,  Ibrahimovic dll. Karena mereka nggak tahan sering jadi cadangan, akhirnya dapat tawaran dari klub lain, tapi harganya jelas lebih murah, bahkan ada yang akhirnya main di liga Eropa TImur yang lebih “dingin” (yang penting masih Eropa). Ini mungkin dipengaruhi juga oleh padat dan ketatnya jadwal pertandingan, seperti Liga Domestik sendiri (Liga Utama), lalu ada Piala Liga, kemudian Piala Champion, kemudian seandainya ada kualifikasi Piala Eropa atau Piala Dunia FIFA, sampai laga ujicoba dan pertandinganpersahabatan. Akhirnya klub-klub menumpuk pemain-pemain untuk cadangan, karena resiko padatnya jadwal, yaitu pemain yang cedera. Namun yang mungkin juga, klub-klub kaya butuh “pemandangan” baru, penampilan yang update.  Seperti halnya bisnis lain, sebuah produk yang selalu harus ganti penampilan, agar masyarakat nggak bosan, karena kalau nggak begitu, akan kalah oleh pesaing yang lebih kreatif. Istilahnya  botolnya beda tapi isinya sama juga. Atau barangkali sudah menerapkan “high cost-low cost”, nggak mau terus-menerus menaikkan gaji pemain, apalagi pemain hebat.  Apalagi semakin banyak pengusaha-pengusaha besar dari luar negara Eropa yang bukan orang Eropa, seperti Timur Tengah dan Amerika Serikat membeli saham beberapa klub elit. Dikhawatirkan lagi para pemilik saham tersebut sudah ikut-ikutan “turun ke bawah”, ikut memilih pemain juga, akhirnya atas nama Direktur tekniknya terjadi konflik dengan pelatih. Sepertinya tidak akan ada lagi pemain legendaris, untuk klub, tidak ada lagi pemain yang dapat predikat “NOT FOR SALE”, bermain sampai gantung sepatu di klub, seperti :

1. Franco Baresi dari AC Milan.
2. Paolo Maldini dari AC Milan
3. GIuseppe Bergomi dari Inter Milan
4. Alessandro Del Piero dari Juventus.
5. Roy Keane dari Manchester United.
6. Bahkan seorang Raul Gonzales dari Real Madrid-pun akhirnya dijual ke klub Bundesliga Jerman, Schalke 04.

Untuk level tim nasional belum terlihat seperti “suasana” di klub. Meski demikian beberapa negara Eropa seperti Jerman,Belanda dan Perancis semakin memberi peluang kepada pemain keturunan, bahkan darah asli dan hanya karena lahir dan sudah menjadi warga negara tersebut untuk bergabung dengan dua tim kuat tersebut di Piala Dunia. Entah karena tim-tim kuat tersebut sudah mulai kehabisan talenta muda atau akibat orang-orang bule di sana sudah mulai “malas” bermain sepak bola, bisa juga hal lainnya.
Mungkin untuk mendongkrak prestasi sepakbola Indonesia, salah satu cara harus seperti orang-orang Turki di Jerman atau banyak orang-orang Afrika yang di Perancis, menjadi warga negara di sana dan bermain untuk kesebelasan Jerman, Belanda atau Perancis. Akan baik sekali kalau ada orang Indonesia yang ditarik tim nasional Perancis, Belanda atau Jerman, bersaing dengan orang non-Eropa. Karena timnas 3 negara tersebut sudah menjadi menjadi kesebelasan “plural”, banyak pemain-pemain asingnya. Bisa disebut antara lain Zinedine Zidane, Thiery Henry, Kareem Benzema di Perancis, Mesut Ozil, Sami Khedira, Jerome Boateng di Jerman, Clarence Seedorf, Giovanni V. Bronchorst di Belanda, banyak lagi nama-nama top non-bule bermain di sana. Jadi bukan memanggil pemain turunan Indonesia yang belum terjamin kualitasnya untuk bermain di Indonesia. Pemain-pemain asli Indonesia sebetulnya secara teknik sudah bagus, yang kurang dipoles cuma mental bertanding, semangat bertanding saja. Mereka selalu grogi jika berhadapan dengan tim Eropa atau bahkan Korea dan Jepang. Karena apa? yaitu tadi, pemain Indonesia khususnya dan anak-anak Indonesia yang merupakan cikal bakal pemain masa depan, terlalu banyak disuguhi dan terlena oleh tayangan-tayangan spektakuler sepakbola yang megah dari tim-tim Eropa yang sangat berlebihan, sehingga para pemain Indonesia jadi minder,  kalah sebelum bertanding, karena terlalu mendewakan dan berkiblat kepada pemain-pemain kelas dunia tersebut.
Tayangan sepakbola nggak masalah, tapi sekali lagi kalau berlebihan, sedikit sekali pengaruh positifnya bagi sepakbola Indonesia. Malah akan lebih baik sekali-sekali televisi menayangkan sepakbola yang lebih cocok untuk Indonesia, dari Amerika Latin misalnya, karena secara “iklim” dan postur tinggi badan dan kondisi negara, kita nggak jauh berbeda. Meksiko, Argentina, Uruguay, Paraguay dan negara latin lainnya adalah contoh gaya sepakbola yang berbeda dengan Eropa dan mereka sukses menandingi kekuatan Eropa. Apa sih rahasianya?