OLAHRAGA UNTUK KESEHATAN JASMANI ROHANI

Olahraga biasanya disatukan dengan kesehatan pada mata pelajaran di sekolah-sekolah. Karena selain industri dan bisnis,  dalam olahraga ada banyak pelajaran untuk dijadikan teladan yang positif untuk diterapkan ke dalam urusan-urusan di luar  olahraga dan industri tadi.
Dengan olahraga orang bisa mendapatkan solusi sehat jasmani. Walaupun cuma sekedar berjalan kaki atau jogging dengan tips sederhana,  bisa juga disebut olahraga, apalagi bila dilakukan secara rutin akan banyak manfaatnya bagi kesehatan dan kabarnya jalan kaki malah lebih baik daripada olahraga berlari-lari. Memang awalnya malas, apalagi sengaja untuk berolahraga. Tips atau cara menyiasatinya dengan dibarengi rutinitas lainnya, misalnya ketika berangkat atau pulang dari kantor, kampus, atau lainnya, dengan berjalan kaki menempuh jarak ratusan meter hingga sekian kilo. Tapi ini juga berat, mungkin seberat olahraga angkat berat,  apalagi ketika teman-teman yang lain naik kendaraan dan cepat sampai, kita sendirian malah jalan kaki, kesannya.., ya seperti nggak punya kendaraan atau sedang kehabisan ongkos mungkin .

Sebagian karyawan di sebuah gedung perkantoran,  tipsnya ada yang menyiasati olahraga  paginya dengan sengaja tidak menaiki lift, tapi mereka menaiki tangga darurat untuk mencapai ruang kantornya di lantai tertentu. Ini mungkin lebih ringan, meski perlu konsisten juga.
Demikianlah, dan biasanya semua kegiatan yang dilakukan untuk menjadi sebuah kebaikan memang berat untuk melakukannya terutama memulainya, termasuk olahraga untuk sehat jasmani.

Itu contoh olahraga yang bisa menjadikan sehat jasmani.

Olahraga bisa juga menjadikan rohani sehat. Bukan olahraga rohani. Misalnya, dalam sebuah arena pertandingan olahraga atau dalam sebuah kompetisi. Di sana banyak sekali aturan-aturan, juga regulasi yang harus dipatuhi oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu pertandingan, baik pemain, pelatih, official, termasuk panitia dan pengelola stadion serta para penonton. Kalau aturan-aturan dan regulasi tersebut  dilanggar, maka yang melanggar akan mendapat hukuman atau sangsi, nggak peduli tim yang melanggar atau seseorang yang melanggar itu sosok yang terkenal, atlit yang bergaya selebritis atau bukan, orang penting atau bukan, semuanya akan mendapat sangsi atau hukuman. Bahkan ketika pertandingan telah usaipun, tim atau seorang atlit nggak boleh langsung pulang, harus ada yang perlu ditaati lagi, seperti apa yang dimaksud dengan victory lap, dalam cabang otomotif, konferensi pers, pembagian medali atau hadiah dan barangkali juga kewajiban moral lain, yaitu ucapan terima kasih kepada fans/penggemar yang telah memberikan dukungan semangat atas kesuksesan mereka, karena tanpa fans atau penonton pendukung, atlit pemenang bukan apa-apa.
Hal-hal yang semacam itu bisa melatih orang atau atlit atau tim untuk selalu sadar bahwa mereka tidak bisa berlaku seenaknya sendiri dalam arena pertandingan atau kompetisi, karena berdampak misalnya : Merusak suasana pertandingan yang kondusif, merusak tontonan yang mungkin sudah menjadi bisnis, seperti bisnis media televisi, atau juga bisa merugikan sponsor-sponsor yang memasang iklan di sekeliling lapangan misalnya, dan lagi kalau suasana pertandingan kacau balau, penonton yang datang ke stadion akan jera, selanjutnya tidak akan berani lagi datang ke stadion. Kalau pertandingan jadi kacau, sponsor jelas bisa rugi, dan selanjutnya mereka tidak mau lagi menanamkan modalnya untuk berpromosi dengan memasang iklan di sekeliling lapangan.
Efek positifnya lainnya dari aturan-aturan itu, bisa menciptakan manusia-manusia yang taat dan menghormati aturan-aturan demi kepentingan bersama, manusia-manusia yang menyadari bahwa selain kepentingan mereka ada banyak kepentingan lain yang lebih utama.
Ada lagi efek positif kesehatan rohani dari pertandingan olahraga, seperti seorang kepala negara atau presiden atau raja yang ikut datang ke stadion untuk menyaksikan langsung tim tuan rumah bertanding. Ini biasanya di pertandingan pembukaan dan di pertandingan grand final. Dengan kedatangan kepala negara tersebut, maka antara pemimpin dan rakyat jadi terasa lebih dekat.
Itu bisa juga disebut sehat rohani.
Kondisi dan prestasi olahraga juga bisa menggambarkan jasmani dan rohani yang sehat sebuah negara. Misalnya negeri Tirai Bambu, China yang sedang “menanjak”, bisa digambarkan dengan prestasi olahraganya yang juga “menanjak”. Kondisi Amerika Serikat yang sedang “menurun”, bisa digambarkan pula dengan prestasi olahraganya yang sedang “menurun”, setidaknya di bawah China.
Di cabang renang biasanya Amerika Serikat mendominasi perolehan medali, tapi akhir-akhir ini China lebih unggul dari negara kuat olahraga lainnya, seperti Rusia dan Amerika Serikat.
Meski belum jaminan juga prestasi hebat olahraga suatu negara menggambarkan kehebatan negara tersebut, misalnya bidang ekonomi. Contoh, sebelum negara Uni Soviet terpecah-pecah, dan masih menjadi super power bersama dengan Amerika Serikat, prestasi olahraganya sangat mendominasi, terutama dalam Olimpiade.
Jadi ingat ada ungkapan “DI DALAM BADAN YANG SEHAT, TERDAPAT JIWA YANG SEHAT”, tapi ada seseorang yang berkomentar “Maling juga badannya sehat, tapi jiwanya …”

 

Artikel Motivasi Lainnya :

perbedaan1negara adi daya1modal sukses1libur sabtu1fenomena Indonesia1

OLAHRAGA DAN LAPANGAN KERJA

Cari kerjaan susah, saingannya banyak dan berat, apalagi nggak ada koneksi orang dalem. Belum lagi mendapat pekerjaan, setahun kemudian sudah ada lagi lulusan angkatan kerja baru, yang mencari kerja juga dan siap bersaing pula.
Ditambah dengan adanya kejadian nggak disangka-sangka yang menimpa para pahlawan devisa, yaitu para TKI yang bekerja di luar negeri, seperti Arab Saudi, Malaysia dan lain-lain, itu resiko.  Pemerintah Indonesia yang dibantu berbagai pihak harus bekerja keras mencari solusi lain lapangan pekerjaan.
Melimpahnya kekayaan alam Indonesia baik yang di darat maupun di laut nggak bisa dijadikan jaminan, karena beberapa di antaranya membutuhkan “kerja keras” bahkan teknologi tinggi.  Seandainya bisa dimaksimalkan lagi pengelolaannya, sebetulnya bisa lebih menguntungkan, terutama untuk kesejahteraan rakyat Indonesia sendiri. Tapi berhubung sudah dikelola tapi masih kurang maksimal, jadinya masih belum maksimal juga manfaatnya untuk rakyat Indonesia sendiri.
Salah satu “modal” lain yang dimiliki Indonesia yaitu ratusan juta jiwa penduduknya. Sayangnya justru pihak luar yang sudah maksimal memanfaatkan potensi itu, misalnya TKI, dan para produsen dari luar negeri yang menjual barang-barang hasil produksinya ke sini. Tapi Indonesia juga nggak mungkin tergantung dengan TKI terus dan kekayaan alam terus. Harus dicari solusi lain. Bagaimana kalau olahraga lebih dimaksimalin lagi ?. Wah, seandainya seluruh cabang olahraga di Indonesia, termasuk yang tradisional, sudah menjadi rutinitas mingguan yang sudah berjalan lancar, profesional, sudah menjadi sebuah industri, maka olahraga bisa menjadi salah satu solusi lapangan pekerjaan. Olahraga harus dijadikan industri di sini. Contoh yang sudah berjalan, sepakbola, cabang olahraga ini di Indonesia sangat banyak penontonnya dan sangat banyak penggemarnya, bahkan bisa melebihi penonton sepakbola di Inggris atau Itali dan juga Spanyol. Tapi itu kalau dikemas lebih rapi dan lebih profesional. Hampir semua orang nonton sepakbola, tapi nggak semua orang nonton olahraga selain sepakbola.
Banyak orang butuh hiburan dan kalau liga sepakbola di Indonesia sudah bisa menghadirkan tontonan yang menarik dan menyenangkan, penonton semakin bertambah banyak yang datang ke stadion. “Nanti kalo tiketnya jadi mahal, gimana ?” “Jangan kuatir, orang Indonesia selalu siap mbayar, apalagi kalo datang ke tempat-tempat yang ada keramaiannya”.  Di event-event sepakbola yang masih sering rusuhpun, sebetulnya penonton di setiap laga Liga Indonesia sudah lumayan banyak, apalagi kalau sudah tertib dan terkendali. Bisa menyaingi pusat-pusat perbelanjaan. Bahkan suatu saat mungkin pusat perbelanjaan akhirnya malah nggak mau jauh-jauh dari stadion. Setiap akhir pekan pertandingan sepakbola pasti menjadi tontonan keluarga.
Sekali lagi, yang paling penting “SUASANA DI STADION DULU” kuncinya.
Sepakbola dan olahraga lain harus menjadi sebuah industri di sini, seperti di Eropa, klub-klub di sana sudah go public. Dari industri sepakbola bisa menyerap banyak tenaga kerja, setidaknya ada uang pemasukan yang merata untuk banyak pihak.
Untuk pihak yang terlibat langsung dalam pertandingan : Para pemain, wasit dan dua asistennya, pelatih, manajer dan officialnya dan dari pihak pengelola stadion sendiri. “Atlit olahraga kan paling lama cuma belasan tahun berkarir, itupun kalau dipakai terus”. “Ya, memang betul, tapi kan atlit yang sudah pensiun bisa disalurkan menjadi, misalnya : Komentator, jurnalis khusus olahraga, pelatih atau instruktur olahraga dari klub yang junior sampai yang senior, bahkan bisa melatih di sekolah-sekolah, di kantor-kantor, bisa juga melatih futsal yang merupakan varian lain dari sepakbola, bahkan bisa melatih ke luar negeri. Beberapa tahun yang lalu, banyak mantan atlit Indonesia, terutama cabang bulutangkis, yang diminta untuk melatih pemain-pemain bulutangkis di sebuah negara.
Bagi atlit yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, berupa paras yang cantik atau ganteng ? Bisa seperti David Beckham, Anna Kournikova atau Maria Sarapova, menjadi selebritis, yang penting bukan selebritis yang suka bikin ulah nggak bener aja.
Dan misalnya atlit yang sudah pensiun tersebut kebetulan sudah punya uang banyak ? Bisa juga pindah ke “kuadrant” lain, jadi pengusaha, bisa membeli saham sebuah klub olahraga untuk dikelola sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Gianluigi Buffon, penjaga gawang veteran dari Juventus Italia, membeli saham sebuah klub. Jangankan atlit sendiri, kalau klub-klub olahraga di Indonesia berpotensi menguntungkan, banyak orang-orang yang bukan atlitpun dan yang punya uang, pasti akan berebut membeli sahamnya.
Untuk pihak yang tidak terlibat langsung dalam pertandingan : Pabrik pembuat bola, pengusaha sepatu, kaos kaki, merchandise, pernak-pernik, kaos dan asesories lainnya, contohnya Manchester United. Dan banyak lagi yang lainnya seperti hak siar, bisa mendatangkan keuntungan.
Itu baru dari satu cabang olahraga saja, yaitu sepakbola. Kalau cabang olahraga yang lain sudah menjadi industri juga, seperti bulutangkis, otomotif, tinju dan lainnya, maka akan banyak sekali tenaga kerja yang terserap.
Walaupun ini memang berat, namanya juga mencari solusi. Kalo nggak mau mencoba alternatif solusi, maka nggak akan dapat solusi sampai kapanpun.