TAYANGAN LIGA EROPA

ayangan-tayangan spektakuler pertandingan liga sepakbola di Eropa yang semakin rutin dan gencar di beberapa stasiun televisi bisa saja melemahkan semangat bertanding pemain-pemain sepakbola Indonesia. Dalam satu minggu banyak sekali acara-acara tayangan sepakbola Eropa dari Spanyol, Inggris, Itali, Perancis ditambah highlight-highlight dan ulasannya yang malah lebih banyak dipenuhi dengan sisi komersialnya dibanding teknik-teknik permainan sepakbola itu sendiri.  Ada satu judul acara, mungkin untuk memancing pemirsa lebih banyak. “BIG MATCH”..! Judul ini dulu dipakai untuk tayangan pertandingan antara klub papan atas saja, seperti Charity SHield, El-Clasico, Liga Champion atau Piala Toyota di Tokyo, tapi sekarang semua tayangan pertandingan nggak peduli klub papan atas, tengah dan bawah ada di Big Match. Jangan berharap ada pemain yang berbakat, memiliki skill tinggi, bisa bertahan lama di klub kaya Eropa, paling cuma di atas kertas, kontrak selama 5 tahun, misal. Baru setahun merumput, pemain tersebut sering dibangku-cadangkan, bahkan dipinjamkan ke klub lain, nggak peduli meski usianya masih muda.  Banyak contoh,  Ronaldo,  Ronaldinho, Robinho,  Ricardo Kaka,  Ibrahimovic dll. Karena mereka nggak tahan sering jadi cadangan, akhirnya dapat tawaran dari klub lain, tapi harganya jelas lebih murah, bahkan ada yang akhirnya main di liga Eropa TImur yang lebih “dingin” (yang penting masih Eropa). Ini mungkin dipengaruhi juga oleh padat dan ketatnya jadwal pertandingan, seperti Liga Domestik sendiri (Liga Utama), lalu ada Piala Liga, kemudian Piala Champion, kemudian seandainya ada kualifikasi Piala Eropa atau Piala Dunia FIFA, sampai laga ujicoba dan pertandinganpersahabatan. Akhirnya klub-klub menumpuk pemain-pemain untuk cadangan, karena resiko padatnya jadwal, yaitu pemain yang cedera. Namun yang mungkin juga, klub-klub kaya butuh “pemandangan” baru, penampilan yang update.  Seperti halnya bisnis lain, sebuah produk yang selalu harus ganti penampilan, agar masyarakat nggak bosan, karena kalau nggak begitu, akan kalah oleh pesaing yang lebih kreatif. Istilahnya  botolnya beda tapi isinya sama juga. Atau barangkali sudah menerapkan “high cost-low cost”, nggak mau terus-menerus menaikkan gaji pemain, apalagi pemain hebat.  Apalagi semakin banyak pengusaha-pengusaha besar dari luar negara Eropa yang bukan orang Eropa, seperti Timur Tengah dan Amerika Serikat membeli saham beberapa klub elit. Dikhawatirkan lagi para pemilik saham tersebut sudah ikut-ikutan “turun ke bawah”, ikut memilih pemain juga, akhirnya atas nama Direktur tekniknya terjadi konflik dengan pelatih. Sepertinya tidak akan ada lagi pemain legendaris, untuk klub, tidak ada lagi pemain yang dapat predikat “NOT FOR SALE”, bermain sampai gantung sepatu di klub, seperti :

1. Franco Baresi dari AC Milan.
2. Paolo Maldini dari AC Milan
3. GIuseppe Bergomi dari Inter Milan
4. Alessandro Del Piero dari Juventus.
5. Roy Keane dari Manchester United.
6. Bahkan seorang Raul Gonzales dari Real Madrid-pun akhirnya dijual ke klub Bundesliga Jerman, Schalke 04.

Untuk level tim nasional belum terlihat seperti “suasana” di klub. Meski demikian beberapa negara Eropa seperti Jerman,Belanda dan Perancis semakin memberi peluang kepada pemain keturunan, bahkan darah asli dan hanya karena lahir dan sudah menjadi warga negara tersebut untuk bergabung dengan dua tim kuat tersebut di Piala Dunia. Entah karena tim-tim kuat tersebut sudah mulai kehabisan talenta muda atau akibat orang-orang bule di sana sudah mulai “malas” bermain sepak bola, bisa juga hal lainnya.
Mungkin untuk mendongkrak prestasi sepakbola Indonesia, salah satu cara harus seperti orang-orang Turki di Jerman atau banyak orang-orang Afrika yang di Perancis, menjadi warga negara di sana dan bermain untuk kesebelasan Jerman, Belanda atau Perancis. Akan baik sekali kalau ada orang Indonesia yang ditarik tim nasional Perancis, Belanda atau Jerman, bersaing dengan orang non-Eropa. Karena timnas 3 negara tersebut sudah menjadi menjadi kesebelasan “plural”, banyak pemain-pemain asingnya. Bisa disebut antara lain Zinedine Zidane, Thiery Henry, Kareem Benzema di Perancis, Mesut Ozil, Sami Khedira, Jerome Boateng di Jerman, Clarence Seedorf, Giovanni V. Bronchorst di Belanda, banyak lagi nama-nama top non-bule bermain di sana. Jadi bukan memanggil pemain turunan Indonesia yang belum terjamin kualitasnya untuk bermain di Indonesia. Pemain-pemain asli Indonesia sebetulnya secara teknik sudah bagus, yang kurang dipoles cuma mental bertanding, semangat bertanding saja. Mereka selalu grogi jika berhadapan dengan tim Eropa atau bahkan Korea dan Jepang. Karena apa? yaitu tadi, pemain Indonesia khususnya dan anak-anak Indonesia yang merupakan cikal bakal pemain masa depan, terlalu banyak disuguhi dan terlena oleh tayangan-tayangan spektakuler sepakbola yang megah dari tim-tim Eropa yang sangat berlebihan, sehingga para pemain Indonesia jadi minder,  kalah sebelum bertanding, karena terlalu mendewakan dan berkiblat kepada pemain-pemain kelas dunia tersebut.
Tayangan sepakbola nggak masalah, tapi sekali lagi kalau berlebihan, sedikit sekali pengaruh positifnya bagi sepakbola Indonesia. Malah akan lebih baik sekali-sekali televisi menayangkan sepakbola yang lebih cocok untuk Indonesia, dari Amerika Latin misalnya, karena secara “iklim” dan postur tinggi badan dan kondisi negara, kita nggak jauh berbeda. Meksiko, Argentina, Uruguay, Paraguay dan negara latin lainnya adalah contoh gaya sepakbola yang berbeda dengan Eropa dan mereka sukses menandingi kekuatan Eropa. Apa sih rahasianya?

SEPAKBOLA INDONESIA

 

bola indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Para sepakbola mania, khususnya sepakbola Indonesia,

Sebelumnya saya pernah usul tentang penilaian klasemen hasil pertandingan sepakbola yang dipengaruhi oleh skor di suatu pertandingan. Nah kali ini saya ingin sumbang saran untuk tim/klub sepakbola Indonesia. Selama ini jika saya perhatikan, masih banyak pemain / klub liga Indonesia yang bermain menyerang ke pertahanan lawan dengan umpan lambung, bola tinggi untuk disundul (heading), apalagi kalau lawan bermain defensif (bertahan). Umpan lambung atau serangan udara memang sangat efisien dan gampang,nggak perlu kreatif, menyerang langsung ke kotak pinalti atau jantung pertahanan lawan, gak usah mikirin pergerakan tanpa bola dan lain sebagainya. Tapi kalau bisa tim-tim liga sepakbola Indonesia diharapkan jangan sering membiasakan menerapkan umpan lambung tersebut kecuali memang punya postur tinggi sperti orang Eropa atau bisa seperti yang dilakukan oleh seorang Diego Maradona, yang meski kalah tinggi tapi menang duel udara dengan bek-bek tim Inggris yang tinggi, bagaimana caranya? .. dengan istilah “TANGAN TUHAN”
atau yang jago tendangan jarak jauh langsung ke gawang seperti yang dilakukan Diego Forlan dari Uruguay atau David Villa dari Spanyol pada Piala Dunia di Afrika Selatan 2010 lalu dan itupun kalau terpaksa. Karena kalau lawan yang dihadapi tim Eropa, Jepang atau Korea bahkan Thailand, jelas kalah, di situlah kelemahan tim-tim liga Indonesia atau pemain Timnas Indonesia, karena postur mereka secara alamiah (sampai sekarang) relatif lebih tinggi dibanding postur pemain Indonesia, takterkecuali pemain hasil naturalisasi. Pemain Indonesia dalam menyerang sebaiknya membiasakan diri bermain dari kaki ke kaki, umpan rendah tapi cepat, konsekuensinya fisik memang harus lebih baik dan stabil. Kecuali lawannya tim dalam negeri juga. Untuk pemain tim liga Indonesia cocoknya meniru tim sepak bola Argentina atau tim2 Amerika Latin lainnya, yang postur tubuh mereka kebanyakan tidak jauh beda dengan pemain Indonesia, tapi mereka biasa bermain “bawah”, sangat jarang umpan lambung, dan akhirnya terbukti bisa sukses bersaing di level dunia.  Ada lagi pengecualian, seperti di tim Spanyol di PD Afrika Selatan 2010 lalu. di mana Charles Puyol yang kalah postur dengan bek tim Jerman yang jangkung-jangkung, seperti Arne Friedrich dan Per Mertesacker, dengan cerdik dan cepat memanfaatkan kelengahan mereka. Tim sepakbola kita kalau mau menyerang dengan eksekusi sundulan, gunakan sundulan diving.  Karakter permainan sepakbola tim Indonesia harus terus diperbaikiagar bisa bersaing di level yang lebih tinggi. Saya pribadi yakin, ada sesuatu yang besar dari sepakbola Indonesia dan ke depannya Indonesia punya sepakbola dengan ciri khas tersendiri, bukan hanya euforia dan mimpi bermain di pentas dunia saja, tapi punya tradisi yang kuat.

BRAVO SEPAKBOLA INDONESIA
 

SEPAKBOLA INDONESIA

Kalau mengikuti siaran langsung pertandingan sepakbola,  seperti Liga Champion atau mungkin EURO bahkan FIFA World Cup yang broadcast dari benua Eropa, persiapan kita untuk nontonnya pasti  “luar biasa”, dari tidur sore, minum kopi dulu dll.  Maklum kalau LIVE dari Eropa, di Indonesia jadi dini hari, sekitar pukul 02.00, di mana waktu tersebut, kelopak mata terasa ada yang nemplokin, berat alias ngantuk berat, apalagi jam 03:00,  (maka berhati2-lah !.. maling biasa beroperasi jam segini).  Sebagian orang bisa saja tahan dan sudah terbiasa, tapi pasti mereka akan merasakan kantuknya di pagi hari. Kalau tim kesayangan kita menang, investasi waktu kita untuk begadang jadi nggak sia-sia, tapi kalau kalah ?… Ada juga sih, “meski kalah tapi dia sendiri malah menang”.  Sepakbola akhir2 ini minim gol, termasuk di pertandingan Liga Indonesia. Mungkin sepakbola lebih cocok sebagai olahraga strategi, lebih mementingkan proses dari pada hasil. Masalah gol seolah cuma pelengkap dari proses tersebut. Sebagai contoh bisa disimak dari permainan tim juara dunia 2010, kesebelasan Spanyol di Piala Dunia Afrika Selatan lalu, mereka selalu bermain impressive, penguasaan bola yang nyaris sempurna, terutama di lapangan tengah, magic football, tapi Spanyol kebanyakan cuma menang dengan skor 1-0, termasuk di partai puncak. Saya jadi ada ide untuk PSSI, khusus untuk sepakbola Indonesia, syukur2 sih ada pengurus PSSI yang solid, atau AFC atau bahkan FIFA yg ngerti bahasa Indonesia kebetulan mampir di blog ini. Bagaimana jika sistem penilaian di dalam skor pertandingan sepakbola khususnya liga Indonesia atau Liga Primer (whatever) dimodifikasi ?. Selama ini menurut aturan FIFA, dalam suatu pertandingan sepakbola :

– Untuk pemenang dengan skor berapapun mendapat nilai 3
– Kalau seri dengan skor berapapun dapat nilai 1
– Kalau kalah dengan skor berapapun nilainya 0

Dimodifikasi menjadi :

1. Untuk pemenang dengan skor 1-0, 2-0 s/d 3-0, tetap mendapat nilai 3
2. Tapi untuk pemenang dengan skor 4-0 dst atau selisih empat angka lebih, misal 5-1, 6-1 dst mendapat nilai 4.
3. Kalau seri dengan skor 0-0 alias “kacamata”, kedua tim tidak mendapat nilai alias 0
4. Kalau seri dengan skor 1-1 dst mendapat nilai 1
5. Kalau kalah dengan skor berapapun nilainya tetap 0

Kenapa harus dimodifikasi ?. Saya pribadi menilai dari sisi hiburan, semakin banyak gol yang terjadi dalam satu pertandingan sepakbola, akan semakin seru dan menarik pertandingan tersebut, karena untuk tim pemenang telah menyuguhkan pertandingan yang berkualitas dan juga untuk memancing kedua tim bermain agresif, persaingan akan semakin ketat. Coba kalau hasil seri 0-0 (kacamata), kan kurang seru tuh pertandingan, mistar gawang gede tapi jarang ada bola yang masuk. Dan juga salah satu cara untuk menghindari permainan “safe”, yang dilakukan kedua kesebelasan yang bisa menurunkan kualitas permainan. Sebagai contoh kalau di Amerika Serikat dan Jepang setiap pertandingan sepakbola harus ada pemenangnya, kalau terjadi seri ada perpanjangan waktu sampai adu penalti.

Mudah-mudahan system ini berguna bagi sepakbola Indonesia yang sebenarnya punya potensi besar,  apalagi dari sisi bisnis, bisa melebihi Inggris, Spanyol atau Itali, kalau terus diurus dengan baik , profesional dan nggak pake “ribut-ribut” berlarut-larut. Dan kedepannya bisa punya sepakbola khas Indonesia.