PEMBALAP-PEMBALAP YANG SUKSES MEMBANGUN

Di cabang olahraga otomotif dunia ada dua nama yang tidak asing lagi yaitu : Michael Schumacher dari balapan mobil FOrmula-1 dan Valentino Rossi dari balap motor MOTOGP. Dua orang tersebut bisa dibilang juara plus. Maksudnya ? Michael Schumacher dan Valentino Rossi di masa jayanya bukan hanya sekedar juara, tapi mereka sukses membangun tim yang sebelum mereka bergabung sangat sulit untuk juara atau katakanlah sudah lama sekali nggak juara, baik itu melahirkan juara dunia atau juara konstruktor.

TIM F1 FERARI : Sebelum bergabungnya Michael Schumacher ke tim kuda jingkrak ini, Tim Ferari prestasinya kurang sesuai dengan harapan, walaupun sempat sekali dua kali mencuri podium, tapi kalah jauh dibanding pesaing mereka, seperti Tim Benetton dan Tim Williams. Setelah bergabungnya Michael Schumacher, yang waktu itu sebagai juara dunia dari TIm Benetton, kurang lebih 4 tahun kemudian, Ferari pun menjuarai Formula-1 yang sudah lama nggak direngkuhnya, termasuk melahirkan pembalapnya sebagai juara dunia. Setelah juara tahun 2000, 2001 s/d 2004 pun Ferari sangat mendominasi balap Formula-1 dengan pembalapnya Michael Schumacher.

TIM MOTOGP YAMAHA : Sebelum bergabungnya Valentino Rossi ke tim Yamaha, boleh dibilang Yamaha adalah Tim kelas 2, papan tengah, tertutup oleh dominasi Honda, bahkan Suzuki sekalipun. Sejak era Wayne Rainey, Yamaha sudah tidak pernah juara dunia lagi, termasuk juara dunia konstruktor. Sempat mengontrak beberapa pembalap papan atas, seperti Luca Cadalora, Norifumi Abe sampai Max Biaggi, tapi hasilnya masih kurang mencapai target yang diinginkan.
Setelah kedatangan Valentino Rossi sekitar tahun 2003, yang waktu itu sebagai pemegang gelar juara Motogp 2 tahun berturut-turut, barulah Tim Yamaha berhasil menjadi juara dunia termasuk juara konstruktor yang sudah lama dinanti-nantikan.

Tidak seperti juara dunia lainnya, seperti Damon Hill, Jacques Villeneuve dari Tim Williams, atau Mika Hakinen dari McClaren, sampai Fernando Alonso, Kimi Raikonen, Jenson Button hingga Lewis Hamilton, yang rata-rata juara dunia hanya 1 x, Mika Hakinen dan Fernando Alonso 2 kali berturut-turut, Michael Schumacher sanggup bertahan hingga lima tahun berturut-turut.

Di Motogp juga demikian, para juara hanya sempat sekali juara dunia, tapi Valentino Rossi bisa juara 5 kali berturut-turut, dan seandainya tidak ada “lawan” terberatnya waktu itu, yaitu diri dia sendiri, bukan tidak mungkin bisa 9 kali juara berturut-turut. Tapi kan Michael Doohan bisa juara 5 kali berturut-turut juga ?. Betul. Tapi dia juara, karena memakai satu motor saja yaitu Honda,   sementara Valentino Rossi bisa juara Motogp dengan dua merk motor yang berbeda, dan salah satunya harus mengembangkan dulu.

Dalam beberapa moment Michael Schumacher dan Valentino Rossi memang kontroversial, tapi prestasi dan bagi mereka lebih pantas disebut pencapaian rekor, membuktikan bahwa mereka pantas disebut juara plus. Juara dunia juga, sukses membangun tim menjadi besar juga. Hingga kini belum ada juara lain yang mampu menyamai rekor yang telah mereka buat.

ATLIT PLUS

Atlit juga, penghibur juga.  Contoh, 3 orang atlit berikut menjadi jaminan dunia olahraga jadi terasa berbeda, ramai. Tidak seperti juara yang lain, kalau menang ya sudah, terima piala, konfrensi pers dst. Tapi 3 orang atlit berikut sangat dinanti2 kehadirannya baik dalam arena maupun luar arena. Kekalahan sepertinya tidak mengurangi “nilai” jual mereka, termasuk di dunia bisnis, apalagi kalau menang. Bukan hanya punya skill tinggi, tapi mereka juga bertarung di arena untuk menikmatinya, semakin keras perlawanan, akan semakin menarik performancenya.

     Muhammad Ali (Cassius Clay) Big Mouth. Ali .. Ali .. Ali ..teriakan khas suporter. Di ring jadi semacam tempat berakting, menari. Dengan gaya hit and run Ali mampu menunjukkan kelasnya sebagai petinju dunia, dan akan selalu dikenang.  Ali bisa menjadikan ring tinju sebagai arena hiburan yang dinanti-nantikan penggemar tinju. Pasca kekalahannya lawan Larry Holmes, dunia tinju kelas berat mulai menurun, walau ada Mike Tyson yang tanpa kompromi menghajar jatuh lawan belum habis ronde pertama, Evander Holyfield dan Lennox Lewis. Ada beberapa nama yang  cukup populer tapi di kelas yang lebih ringan, Roy Jones Jr, Oscar de La Hoya akhirnya tenggelam. Dunia tinju pro sempat dikuasai Amerika Serikat, karena promotor2 topnya dari sana dan petinjunya juga dari sana, maka tontonan tinju bisa dikemas dengan baik dan laku dijual, bisa sangat populer ke seluruh dunia.

Diego Armando Maradona, sangat populer dengan gol “Tangan Tuhannya” yang menjadi kontroversi, tapi di gol keduanya waktu Argentina versus Inggris pada laga semi final Piala Dunia FIFA di Meksiko tahun 1986, dia membalas dengan aksi berkelas yang hanya mampu ditandingi pemain berkelas juga, dan sangat langka, melewati beberapa pemain belakang sampai gol. Di Timnas Argentina belum ada pemain generasi sesudahnya yang menyamai dia. Javier Zanetti, Sebastian Veron, Diego Simeone,  Riquelme sampai Lionel Messi, belum mampu menyamai Maradona. Nama2 di atas memang pemain jenius dan hebat semua tapi di TImnas Argentina, Maradona menjadi “Jenderal” lapangan, seperti halnya Zinedine Zidane di Perancis, Lothar Matthaeus di Jerman, Luis Figo dari Portugal. Tidak semua pemain hebat bisa menjadi “jenderal lapangan” yang bisa memberi semangat dan motivasi bertanding. Tanpa kehadirannya, Tim Tango terasa kurang lengkap.

Valentino Rossi (The Doctor). Special di dunia olahraga otomotif khususnya MOTOGP. Rossi sangat menarik dan hangat di dalam dan di luar arena balap roda 2. Pembalap berbakat ini sangat menikmati balapan, bukan hanya mengandalkan teknis yang hebat. Rossi sepertinya tidak nyaman berada unggul jauh sendirian di depan, seolah-olah dia mengendurkan sedikit kecepatan motornya, untuk bergabung dengan pembalap lain bersaing. Semakin dia dipressure dari belakang oleh lawan semakin dia menikmati balapan. Tidak perlu start terdepan atau row terdepan, tapi Rossi bisa memprediksi di lap ke berapa berada terdepan.

Mewakili  3 generasi, atlit seperti 3 nama tersebut di era sekarang akan sulit dicari, “atlet plus” akan langka. Ada sesuatu yang dinantikan para penonton selain teknik tinggi dari ke 3 atlit tersebut dalam setiap penampilannya. Ada satu nama lagi yang memenuhi kriteria atlit plus : David Beckham, namun sayang Becks tidak pernah meraih Piala Dunia sekalipun.